Sanae Takaichi: Hubungan Jepang-Amerika Serikat (AS) Bisa Runtuh Gegara Konflik Taiwan
Kredit Foto: Getty Images/Tomohiro Ohsumi
Aliansi Jepang-Amerika Serikat (AS) berada dalam ancaman jika terjadi konflik dari Taiwan-China. Tindakan Tokyo terkait hal tersebut akan menjadi penentu kelanjutan hubungan strategisnya dengan Washington.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi mengatakan bahwa pihaknya harus bertindak jika terjadi serangan terhadap wilayah dari Taiwan. AS menurutnya akan memutuskan hubungan jika pihaknya tidak merespons hal itu.
Baca Juga: ETF Kripto Pertama Jepang Berpotensi Melantai di 2028
Namun Takaichi menegaskan bahwa pernyataannya tidak berarti pihaknya akan secara otomatis terlibat dalam aksi militer apabila terjadi konflik dari China dan Amerika Serikat di Taiwan.
“Saya ingin menegaskan dengan sangat jelas bahwa ini bukan soal kami keluar dan melakukan aksi militer jika kedua negara terlibat konflik soal Taiwan,” kata Takaichi, dilansir dari Nikkei Asia, Rabu (27/1).
Namun, ia mengatakan bahwa dalam skenario terburuk, pihaknya memiliki tanggung jawab untuk mengevakuasi warga negara dari Jepang dan Amerika di Taiwan.
“Jika sesuatu yang serius terjadi di sana, kami harus menyelamatkan warga kami di Taiwan. Dalam situasi seperti itu, mungkin ada kasus di mana kami mengambil tindakan bersama,” ujarnya.
Takaichi menambahkan bahwa jika pasukannya diserang, maka pihaknya terpaksa akan membalas hal tersebut karena kredibilitas aliansi kedua negara menjadi taruhan.
“Jika pasukan mitra kami, yang bertindak bersama kami, diserang dan kami tidak melakukan apa pun serta hanya melarikan diri, maka aliansi akan runtuh,” katanya.
Ia menegaskan bahwa responsnya akan tetap berada dalam batas hukum yang berlaku, dengan mempertimbangkan situasi di lapangan secara menyeluruh.
“Kami akan merespons secara tegas dalam batas hukum, sesuai dengan hukum yang berlaku saat ini, sambil membuat penilaian komprehensif berdasarkan kondisi di lapangan,” tambahnya.
Hubungan Jepang dan China sendiri memburuk ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir akibat ucapan dari Takaichi. Ia baru-baru menyatakan bahwa pihaknya bisa meluncurkan respons militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan dari Beijing. China membalas hal itu dengan memberlakukan pembatasan ekspor, pembatalan penerbangan serta komentar keras dari pemerintah, sembari berulang kali menuntut agar pernyataan tersebut ditarik.
Baca Juga: China: Jepang Tak Layak Jadi Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB
Taiwan sendiri diklaim sebagai bagian dari wilayah dari China. Namun Taiwan diperintah secara demokratis dan memiliki pemerintahan sendiri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: