Kredit Foto: Uswah Hasanah
Bursa Efek Indonesia memastikan dinamika global, termasuk keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI), tidak menghambat rencana perusahaan untuk melantai di pasar modal Indonesia.
Kepastian tersebut disampaikan Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna seiring berjalannya proses pengajuan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering.
Nyoman menegaskan minat perusahaan untuk menjadi emiten masih terjaga, tercermin dari jumlah pengajuan dokumen IPO yang masuk ke BEI.
“Minat menjadi perusahaan tercatat saya tidak melihat penurunan, dalam konteks ini saya melihat dari sisi submission tidak berubah, hanya tinggal kita nanti memastikan apakah perusahaan-perusahaan yang masuk itu sudah sesuai dengan ekspektasi yang kita harapkan sebagai regulator,” ujar Nyoman kepada awak media di Media Center BEI, Jakarta, Rabu.
Menurutnya, BEI tetap menjalankan fungsi seleksi secara ketat guna memastikan kualitas perusahaan yang akan tercatat di bursa.
Ia menjelaskan, pengalaman tahun sebelumnya menunjukkan jumlah pengajuan IPO relatif stabil dibandingkan periode sebelumnya.
Meski jumlah perusahaan yang benar-benar melangsungkan IPO sempat menurun, Nyoman menilai kualitas aksi korporasi justru mengalami peningkatan.
Hal itu tercermin dari rata-rata dana yang berhasil dihimpun emiten melalui IPO yang melonjak signifikan.
“Kalau melihat dari jumlah perusahaan tercatat relatif turun ya, tapi proceed-nya meningkat rata-rata yang dulunya hanya Rp350 triliun kalau kita rata-ratakan proceed di tahun kemarin sampai dengan Rp700 miliar rata-rata per perusahaan,” ujar Nyoman.
Peningkatan nilai dana tersebut menandakan terjadinya pergeseran kelas perusahaan yang masuk ke pasar modal.
Nyoman menyebut aksi IPO kini tidak lagi didominasi perusahaan kecil, melainkan mulai diisi oleh emiten kelas menengah hingga besar.
“Sudah ada scale up nih dari sebelumnya kelasnya relatif kelas yang kecil sudah ke menengah dan atas, dan itu yang kita harapkan nanti untuk meningkatkan kedalaman pasar kita size juga menjadi perhatian,” ujar Nyoman.
Di sisi lain, BEI tetap membuka ruang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mencatatkan sahamnya di bursa.
Baca Juga: IHSG Rontok 8%, BEI Tarik Rem! Perdagangan Dibekukan Sementara
Nyoman menegaskan perusahaan skala UMKM tetap memiliki peluang sepanjang memenuhi kriteria sebagai perusahaan yang prospektif.
“Tapi perusahaan yang SME tetap kita berikan kesempatan asal prospective company, dua sisi inilah yang kita akan tumbuhkan ya, jadi itu tidak ada impact secara langsung informasi yang ditanyakan tadi karena kita melihat jumlahnya juga masuk relatif tidak menurun dari sebelumnya,” ujar Nyoman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: