Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) menilai sentimen estafet kepemimpinan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi salah satu faktor yang akan memengaruhi pergerakan pasar saham dalam sepekan ke depan, di tengah tekanan kuat yang masih membayangi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Equity Analyst IPOT David Kurniawan menyampaikan sentimen pergantian kepemimpinan BEI dan OJK muncul setelah gejolak pasar yang dipicu tekanan global dan domestik, termasuk efek kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“IHSG ditutup di level 8.329 atau melemah kurang lebih 6,94% dibandingkan pekan sebelumnya dan dalam masa pelemahan sepekan terakhir tersebut investor asing melakukan penjualan (outflow) mencapai Rp15,7 triliun di pasar reguler,” ujar David dalam risetnya, Minggu (1/2/2026).
Baca Juga: Free Float Saham Naik ke 15%! BEI Pilih Bertahap Untuk Emiten Lama, IPO Langsung Berlaku
Menurut David, tekanan terhadap pasar domestik berasal dari kombinasi sentimen global dan dalam negeri. Dari global, pasar masih mencerna ketidakpastian terkait isu Greenland Trade War menyusul gertakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Jika ada pernyataan resmi dari Uni Eropa untuk membalas tarif tersebut, mungkin akan terlihat penguatan mata uang safe haven seperti Swiss Franc atau Yen Jepang serta volatilitas tinggi di saham-saham eksportir global,” kata David.
Dari domestik, tekanan pasar dipicu oleh kebijakan MSCI yang mengumumkan Interim Freeze dengan efek langsung. MSCI juga menyampaikan peringatan akan mengurangi bobot seluruh saham Indonesia dan menurunkan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market apabila hingga Mei 2026 tidak terdapat perbaikan transparansi yang signifikan.
Ancaman tersebut, menurut David, memicu gejolak di dalam negeri yang ditandai dengan pengunduran diri serta penunjukan jajaran pimpinan baru di BEI dan OJK dalam waktu relatif singkat.
David meyakini estafet kepemimpinan baru di BEI dan OJK menjadi momentum strategis bagi perbaikan tata kelola pasar modal ke depan.
“Dengan pengalaman yang komprehensif di sektor jasa keuangan tersebut, kepemimpinan baru ini diharapkan mampu menciptakan sinergi yang kuat untuk mendorong pertumbuhan, transparansi, dan daya saing pasar modal Indonesia agar semakin progresif di masa depan,” ujarnya.
Memasuki periode perdagangan 2–5 Februari 2026, IPOT mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia (gross domestic product/GDP) tahun penuh 2025 sebagai sentimen tambahan bagi pasar.
“Pasar berekspektasi ekonomi kita tumbuh solid di angka 5,1%–5,2%. Jika angka resminya di atas ekspektasi, ini akan menjadi bensin tambahan bagi IHSG,” kata David.
Baca Juga: Guyur Dana ke Pasar Modal, Pandu Bocorkan Kriteria Saham Incaran Danantara
Selain data makro, reaksi pasar terhadap kepemimpinan baru BEI dan OJK dinilai masih akan menjadi perhatian pelaku pasar dalam sepekan ke depan.
Merespons dinamika tersebut, IPOT merekomendasikan strategi perdagangan pada saham-saham yang masih berada dalam tren naik (uptrend). Saham yang direkomendasikan antara lain PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ).
WIIM direkomendasikan beli dengan target harga 1.975 dan stop loss di 1.745. JPFA dinilai menarik seiring prospek sektor poultry pada 2026, dengan target harga 3.090 dan stop loss 2.630. Sementara itu, ULTJ dinilai relatif aman dari faktor MSCI dan berpotensi breakout dari area konsolidasi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Disclaimer: Keputusan untuk melakukan aksi jual atau beli saham sepenuhnya ada di tangan pembaca. Segala risiko kerugian dari setiap keputusan investasi yang diambil menjadi tanggung jawab pembaca.
Editor: Annisa Nurfitri