Sentimen Masih Extreme Fear, Harga Bitcoin (BTC) Hari Ini (12/2) Turun Lagi!
Kredit Foto: Istimewa
Harga bitcoin kembali melemah dan mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut pada awal perdagangan di Kamis (12/2). Aset kripto terbesar itu gagal melanjutkan rebound terbaru menyusul volume transaksi spot yang menipis serta sentimen pasar yang masih berada dalam zona extreme fear.
Dikutip dari Coinmarketcap, nitcoin sempat turun dan menyentuh level US$66.000. Penurunan kali ini memicu kehati-hatian pelaku pasar. Meski demikian, data on-chain menunjukkan koreksi kali ini masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan penurunan tajam pada puncak siklus sebelumnya. Tidak terlihat adanya tanda-tanda panic selling seperti yang kerap muncul saat pasar memasuki fase distribusi besar.
Baca Juga: Bukan Digital Gold, Bitcoin (BTC) Justru Makin Mirip Saham Teknologi
Di sisi lain, arus dana ke exchange-traded fund (ETF) bitcoin spot tercatat masih stabil dalam tiga hari terakhir. Aliran dana tersebut dinilai membantu meredam tekanan jual, meskipun sentimen jangka pendek masih lemah. Saat ini, pasar dinilai tengah berada dalam fase price discovery di mana harga bergerak mencari keseimbangan baru.
Analis Wintermute, Jasper De Maere menilai pergerakan harga jangka pendek masih sangat dipengaruhi oleh aktivitas leverage.
“Dengan volume spot yang masih relatif rendah, pergerakan harga bitcoin saat ini banyak didorong oleh posisi leverage,” ujar Jasper De Maere.
Ia menambahkan, volatilitas tinggi berpotensi berlanjut selama pasar masih berada dalam fase pencarian harga.
Sejumlah tokoh industri kripto tetap menunjukkan pandangan optimistis. Chairman BitMine Immersion, Tom Lee menyarankan investor untuk fokus mencari titik masuk yang menarik, alih-alih mencoba menebak level terendah harga.
Serupa, Executive Chairman Strategy, Michael Saylor kembali menegaskan keyakinannya terhadap bitcoin sebagai aset jangka panjang dan menyebut mata uang kripto tersebut berpotensi mengungguli kinerja saham tradisional meski tengah mengalami tekanan harga.
Baca Juga: Anjlok Lalu Bangkit Lagi, Harga Bitcoin (BTC) Sudah Masuk Tren Bullish?
Dari Amerika Serikat (AS), data penjualan ritel yang lebih lemah turut meningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga acuan. Kondisi ini memberi tekanan pada dolar dan membuka ruang bagi aset berisiko, termasuk kripto. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis data nonfarm payrolls dan inflasi dari AS.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: