Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Berburu Peluang Cuan Sektor Konsumsi Hingga Logistik Jelang Lebaran 2026

        Berburu Peluang Cuan Sektor Konsumsi Hingga Logistik Jelang Lebaran 2026 Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pola konsumsi serta daya beli masyarakat Indonesia pada Ramadan dan Hari Raya Idulfitri secara historis mengalami perubahan signifikan.

        Fenomena tahunan ini dinilai menciptakan peluang investasi yang menarik di sejumlah sektor produktif seiring meningkatnya permintaan barang dan jasa secara agregat.

        Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai peningkatan belanja rumah tangga akan menjadi salah satu mesin utama penggerak pasar pada kuartal ini.

        “Secara umum, permintaan terhadap barang konsumsi, ritel, dan layanan meningkat, sementara volatilitas saham tertentu juga bisa naik,” ujar Reydi kepada Warta Ekonomi, Senin (16/2/2026).

        Baca Juga: Pemerintah Gelontorkan Diskon Transportasi Saat Lebaran, Ini Detailnya!

        Berdasarkan analisis pasar, Reydi menyebut terdapat sejumlah sektor utama yang diperkirakan mencatat kinerja positif. Pertama, sektor konsumsi, ritel, dan pembayaran digital yang berada di garda terdepan dalam menyerap peningkatan anggaran belanja masyarakat.

        “Transaksi digital akan meningkat signifikan, baik dari sisi volume penjualan maupun frekuensi transaksi,” jelasnya.

        Sektor lainnya adalah poultry dan fast moving consumer goods (FMCG). Sektor pangan, khususnya rantai pasok protein dan bahan pokok, dinilai hampir selalu mengalami lonjakan permintaan setiap Ramadan dan Idulfitri.

        “Emiten dengan jaringan distribusi yang luas dan merek yang kuat di food supply chain berpeluang mencatat pertumbuhan volume di atas ekspektasi,” ujarnya.

        Sektor transportasi dan logistik juga diproyeksikan memperoleh dampak positif. Reydi mengatakan mobilitas masyarakat yang meningkat tajam pada periode mudik dan arus balik memberikan dorongan langsung terhadap jasa angkutan.

        “Mobilitas masyarakat meningkat signifikan saat mudik dan arus balik. Hal ini berdampak pada volume jasa angkutan, penjualan tiket, serta aktivitas logistik barang,” jelasnya.

        Baca Juga: BI Siapkan Uang Tunai Rp185,6 Triliun untuk Kebutuhan Lebaran

        Menurut Reydi, emiten yang telah matang secara operasional cenderung lebih diuntungkan dibandingkan perusahaan yang masih berada dalam fase ekspansi besar-besaran, karena memiliki kemampuan menjaga efisiensi biaya di tengah lonjakan aktivitas.

        “Ini sangat bergantung pada kapasitas operasional dan efisiensi biaya masing-masing emiten,” pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: