Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Buka Keran Ekspor ke AS, Benarkah Indonesia Kembali Jual Mineral Mentah?

        Buka Keran Ekspor ke AS, Benarkah Indonesia Kembali Jual Mineral Mentah? Kredit Foto: Antara/Asprilla Dwi Adha
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat tidak akan membuat Indonesia mengekspor bahan mentah. Penegasan ini muncul setelah adanya poin perjanjian perdagangan timbal balik yang menyebutkan penghapusan pembatasan ekspor mineral kritis ke Negeri Paman Sam.

        Upaya penghapusan pembatasan ekspor tersebut secara resmi menjadi bagian dari dokumen kerja sama yang telah ditandatangani oleh kedua negara pada Jumat (20/2/2026). Langkah ini memicu diskusi mengenai arah kebijakan hilirisasi industri pertambangan yang selama ini gencar dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

        Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan, kesepakatan terkait mineral kritis itu difokuskan untuk urusan investasi di dalam negeri. Ia menyebutkan bahwa Indonesia tetap pada pendiriannya untuk tidak mengirimkan mineral tersebut dalam bentuk mentah ke luar negeri.

        "Itu lebih ke bekerja sama di bidang investasi ya, mereka [AS] akan berinvestasi di Indonesia. Untuk detailnya saya juga belum sampai ke sana, akan dibahas lebih lanjut lagi nanti," kata Anggia di Kantor Kementerian ESDM. 

        Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan bahwa pembatasan ekspor yang dimaksud hanya berlaku untuk komoditas yang telah melewati tahap pengolahan lanjutan. Hal ini berarti produk yang dikirimkan harus sudah memiliki nilai tambah dan bukan lagi berupa bijih mineral murni.

        "Mineral kritis kita sudah sebutkan itu terkait industrial mineral, artinya secondary processed," jelas Airlangga dalam konferensi pers secara daring. 

        Baca Juga: Airlangga Ungkap Peluang Strategis Mineral Kritis dalam Kesepakatan Dagang Indonesia-AS

        Airlangga menambahkan bahwa Indonesia sangat terbuka terhadap kerja sama teknologi baik untuk mineral kritis maupun logam tanah jarang. Sektor ini menjadi sangat strategis mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu pemilik cadangan mineral terbesar yang dibutuhkan oleh industri masa depan.

        Untuk diketahui, mineral kritis merupakan komoditas tambang yang memiliki kegunaan penting bagi industri teknologi tinggi namun sangat rentan terhadap gangguan pasokan. Komoditas ini menjadi bahan baku utama dalam pembuatan komponen elektronik, baterai kendaraan listrik, hingga perangkat energi terbarukan di pasar global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: