Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Survei IBM: 45% Konsumen Manfaatkan AI Saat Belanja

        Survei IBM: 45% Konsumen Manfaatkan AI Saat Belanja Kredit Foto: IBM
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Momen Ramadan dan Idulfitri tahun ini tidak hanya menjadi peningkatan aktivitas belanja di toko fisik, tetapi juga meningkatnya pemanfaatan artificial intelligence (AI) dalam mendukung belanja konsumen.

        Perilaku konsumen yang semakin terhubung dengan teknologi, mendorong pelaku usaha beradaptasi terhadap pola konsumsi yang lebih terinformasi, terencana, dan berbasis data.

        Studi global yang dirilis IBM bersama National Retail Federation (NRF) menunjukkan, 45% konsumen kini memanfaatkan AI dalam proses pengambilan keputusan berbelanja mereka.

        AI digunakan untuk riset produk, menafsirkan ulasan, hingga mencari promosi terbaik.

        Temuan ini menegaskan konsumen kini datang ke toko dengan preferensi yang lebih terarah dan tujuan pembelian yang semakin jelas, berkat dukungan perangkat digital.

        Perubahan ini mencerminkan ekspektasi konsumen yang terus berkembang, di mana mereka kini semakin terintegrasi dalam memanfaatkan kanal ritel fisik dan digital.

        Konsumen tetap ingin melihat dan mencoba produk secara langsung, namun proses pengambilan keputusan semakin dipengaruhi teknologi.

        Tren global ini sejalan dengan perkembangan ekonomi digital Indonesia.

        Berdasarkan data International Trade Administration, Indonesia merupakan pasar e-commerce terbesar di Asia Tenggara dengan kontribusi lebih dari 52% dari total volume bisnis online ASEAN.

        Nilai pasar e-commerce nasional pada 2023 diperkirakan mencapai USD 52,93 miliar, dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 86,81 miliar pada 2028.

        Pertumbuhan tersebut memperlihatkan transformasi digital di sektor ritel memiliki implikasi ekonomi yang signifikan.

        Managing Director IBM Indonesia Juvanus Tjandra menilai, industri ritel nasional tengah memasuki fase transformatif.

        AI, menurutnya, bukan lagi sekadar alat efisiensi, melainkan fondasi pertumbuhan jangka panjang.

        "Pelaku ritel yang mampu mengintegrasikan AI dalam strategi data dan pengalaman pelanggan, akan memimpin fase pertumbuhan berikutnya,” ujar Juvanus Tjandra, Selasa (24/2/2026).

        Baca Juga: AI dan Geopolitik Membayangi, Begini Nasib Harga Bitcoin Hari Ini (25/2)

        IBM menegaskan, pelaku ritel saat ini harus bagaimana mengintegrasikan AI secara strategis, untuk memperkuat hubungan brand dengan pelanggan.

        Ke depan, daya saing ritel tidak lagi ditentukan semata oleh lokasi atau harga, melainkan oleh kemampuan membaca data, memahami perilaku konsumen, dan menghadirkan pengalaman yang terintegrasi lintas kanal. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: