Pakar Pertahanan Bongkar Peta Militer Iran vs AS-Israel, Siapa yang Paling Sanggup Bernapas Panjang?
Kredit Foto: AP Photo
Pakar militer belum berani memastikan apakah strategi militer terbaru Iran yang cenderung lebih agresif pascakematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akan efektif menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Seperti dijelaskan oleh penasihat keamanan dan risiko asal Inggris serta mantan instruktur militer, John Phillips mengatakan strategi militer Iran berubah sejak perang 12 hari pada Juni 2025.
Saat itu, Iran langsung membalas serangan Israel dengan ratusan rudal balistik ke kota-kota Israel. Meski korban di Iran cukup besar, dampak di Israel relatif lebih kecil, walau beberapa rudal sempat menembus sistem pertahanan Iron Dome.
AS kemudian ikut terlibat pada 22 Juni dengan menyerang fasilitas nuklir Natanz, Fordow, dan Isfahan. Presiden AS Donald Trump mengklaim kemampuan nuklir Iran telah dinetralisir.
Gencatan senjata pun akhirnya tercapai pada 24 Juni 2025, beberapa jam setelah Iran menembakkan rudal ke Pangkalan Al Udeid di Qatar.
Menurut Phillips, sejak perang tersebut, Iran mengubah doktrin militernya dari pendekatan defensif menjadi lebih ofensif secara asimetris.
Namun, meski kini lebih berani mengambil risiko dan cenderung eskalatif, kemampuan Iran disebut telah terdegradasi akibat kerusakan perang, sanksi, dan ketidakstabilan dalam negeri.
Phillips menilai Iran mengalami kemunduran strategis yang sangat besar, sebab infrastruktur nuklir dan rudalnya disebut mengalami kerusakan berat, ekonomi semakin melemah, serta wafatnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dalam serangan di Teheran membuat rezim kian rentan secara internal.
"Strategi agresif ini belum mampu mencegah kemunduran strategis yang serius,” ujarnya disitat dari Al Jazeera.
Phillips menilai, secara militer Iran mampu mempertahankan operasi rudal, drone, proksi, dan siber secara sporadis selama bertahun-tahun karena sistem tersebut relatif murah dan dapat diproduksi secara lokal, meski di tengah sanksi dan embargo.
Namun secara politik dan ekonomi, konflik berkepanjangan berintensitas tinggi berisiko memicu kontraksi ekonomi yang parah, keresahan dalam negeri, serta menggerus legitimasi rezim.
"Karena itu, Teheran kemungkinan akan memainkan pola naik-turun eskalasi ketimbang mempertahankan perang skala penuh secara terus-menerus,” katanya.
Peta Kekuataan Militer AS dan Israel
Sementara itu, Israel masih memiliki keunggulan militer kualitatif, jaringan pertahanan rudal aktif, serta dukungan keamanan kuat dari AS. Hal ini memungkinkan Israel mempertahankan kampanye udara dan pertahanan dalam jangka panjang.
Namun, ketahanan domestik, kelelahan mobilisasi cadangan, serta tekanan diplomatik dan ekonomi dapat membatasi durasi konflik.
Sementara itu, secara material AS dinilai mampu mempertahankan tempo serangan jauh lebih lama dibandingkan Iran dan Israel, ini berkat kekuatan global dan basis industrinya.
"Kendala utamanya adalah situasi politik domestik dan prioritas strategis Washington," kata Phillips.
Ia menambahkan, konflik Iran–Israel kini menguji kemampuan Washington menyelaraskan strategi pertahanan nasional dengan menyesuaikan keinginan publik AS terhadap perang Timur Tengah yang berkepanjangan.
Karena itu, AS diperkirakan akan mengupayakan kampanye terbatas yang berfokus pada penangkalan, bukan perang intensitas tinggi tanpa batas waktu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: