Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perang Meluas di Timur Tengah, Rupiah Melemah ke Rp16.872

        Perang Meluas di Timur Tengah, Rupiah Melemah ke Rp16.872 Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah 4 poin ke level Rp16.872 pada perdagangan Selasa sore (3/3/2026). Pelemahan mata uang Garuda tersebut dinilai dipicu oleh meluasnya perang udara AS dan Israelterhadap Iran.

        Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa sejak Senin konflik terus meluas, di mana Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk, serta terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

        “Kapal tanker dan kapal kontainer juga menghindari jalur air tersebut karena perusahaan asuransi telah membatalkan pertanggungan mereka untuk kapal-kapal itu, sementara tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak,” kata Ibrahim kepada wartawan.

        Ia menambahkan, kekhawatiran terhadap transit di jalur strategis tersebut meningkat setelah media Iran melaporkan pernyataan seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran yang menyebut Selat Hormuz ditutup serta memperingatkan Iran akan menembak kapal mana pun yang mencoba melintas.

        “Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” imbuhnya.

        Dari dalam negeri, sentimen pelemahan rupiah juga terjadi setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar US$0,95 miliar.

        Baca Juga: Rupiah Ambles ke Rp16.868, Terseret Perang AS-Iran

        Baca Juga: Perang AS–Iran, Rupiah Tertekan Lonjakan Harga Minyak

        Baca Juga: Konflik AS-Iran Picu Risk Off, Rupiah dan IHSG Tertekan

        Neraca perdagangan Indonesia tersebut membukukan surplus selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus pada Januari 2026 terutama ditopang oleh kinerja komoditas nonmigas yang mencatat surplus sebesar US$3,22 miliar.

        “Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan impor pada Januari 2026,” pungkas Ibrahim.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: