Selat Hormuz Ditutup Iran, Amerika Serikat (AS) Klaim Pasokan Minyak Global Masih Aman
Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Amerika Serikat (AS) menyatakan pasokan minyak global masih dalam kondisi aman meskipun konfliknya telah membuat salah satu jalur vital perdagangan minyak global ditutup oleh Iran.
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent mengatakan pasar minyak mentah saat ini masih memiliki pasokan yang cukup besar.
Baca Juga: Bos Goldman Sachs: Pasar Terlalu Tenang Hadapi Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS)
“Pasar minyak mentah sangat tercukupi. Ada ratusan juta barel minyak yang saat ini berada di laut luar kawasan dari Teluk Persia,” ujar Bessent, dikutip dari CNBC.
Pihaknya juga tengah menyiapkan sejumlah kebijakan tambahan untuk menjaga stabilitas pasar energi global. Salah satunya dengan siap turun tangan jika diperlukan untuk menjaga keamanan jalur perdagangan energi internasional.
Ia menyebut pihaknya berpotensi mengawal kapal tanker minyak yang melintas di jalur strategis Timur Tengah.
“AS akan turun tangan jika diperlukan. Jika situasi mengharuskan, militer akan menyediakan pengawalan bagi kapal tanker minyak yang melintasi selat,” kata Bessent.
Jalur yang dimaksud adalah Strait of Hormuz. Ia merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Sekitar dua puluh persen persen konsumsi minyak global melewati selat tersebut yang menghubungkan dunia dengan produsen utama minyak seperti Arab Saudi, Iran, Irak dan Uni Emirat Arab.
Harga minyak dunia sebelumnya sempat melonjak setelah serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Hal itu memicu kekhawatiran global, apalagi hal ini ditambah dengan manuver penutupan selat terkait oleh Iran.
Bagi dunia, perkembangan ini menjadi penting karena harga minyak dunia sangat berpengaruh terhadap inflasi, harga bahan bakar, serta stabilitas ekonomi domestik.
Baca Juga: Industri Keuangan Amerika Serikat Waspadai Ancaman Hacker Iran
Jika Timur Tengah makin panas dan distribusi energi global terus terganggu, harga minyak berpotensi melonjak dan memberikan tekanan tambahan pada biaya energi, termasuk di Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: