Kredit Foto: BPMI Setpres
Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat memberikan fasilitas tarif 0% untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia yang masuk ke pasar Amerika dinilai membuka peluang ekspor yang lebih luas, namun para ekonom mengingatkan bahwa fasilitas tarif rendah tidak otomatis meningkatkan kinerja ekspor nasional.
Ekonom senior INDEF Tauhid Ahmad menilai fasilitas tarif 0% bukan keistimewaan yang hanya diberikan kepada Indonesia.
“Banyak negara juga mendapatkan fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya, akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat,” ujar Tauhid dalam diskusi kajian dampak ART yang diselenggarakan Prognosa Research & Consulting dikutip dari siaran pers, Minggu (8/3/2026).
Ia menyebut, keberhasilan Indonesia memanfaatkan peluang tersebut akan sangat bergantung pada kesiapan sektor industri nasional dalam meningkatkan produktivitas, kualitas produk, serta efisiensi biaya produksi. Tanpa adanya peningkatan tersebut, fasilitas tarif rendah tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap ekspor.
Sebagai contoh, Tauhid mengatakan bahwa beberapa komoditas Indonesia masih menghadapi persaingan ketat di pasar global karena produk serupa juga tersedia dari negara lain yang memperoleh fasilitas tarif yang sama.
“Produk seperti CPO memang kita produksi, tetapi pasar juga memiliki alternatif dari negara lain yang mendapatkan fasilitas tarif serupa,” tambahnya.
Menurutnya, ribuan pos tarif yang memperoleh tarif 0% tidak bisa dimaknai sebagai jaminan ekspor akan meningkat dalam jangka pendek.
“Kita tidak boleh terkecoh dengan angka 1.819 pos tarif. Walaupun tarif ekspor menjadi 0%, belum tentu ekspor kita langsung meningkat jika kapasitas dan daya saing industri belum siap,” tegasnya.
Baca Juga: ART RI-AS Berlaku 90 Hari, Indonesia Amankan Ekspor Strategis
Baca Juga: Ancam Kemandirian Dagang Indonesia, Celios: Ada Poison Pill di ART RI–AS!
Jika ditelaah menggunakan model analisis ekonomi yang dikembangkan IPB, dalam skenario tarif 19% dengan pengecualian 0% untuk produk tertentu, ekspor Indonesia justru diperkirakan berpotensi turun sekitar 1,58%. Pada saat yang sama, impor diproyeksikan meningkat sekitar 1,51%.
Dalam simulasi tersebut, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia diperkirakan terkoreksi sekitar 0,41%. Sementara itu, ekonomi Amerika Serikat diproyeksikan mencatat pertumbuhan sebesar 6,54%.
Selain itu, Indonesia juga perlu mengantisipasi potensi tekanan terhadap neraca perdagangan yang diperkirakan mencapai sekitar 5,7 miliar dolar AS, belum termasuk komitmen pembelian komoditas Amerika senilai 38,4 miliar dolar AS yang tercantum dalam kesepakatan ART.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: