Kredit Foto: Reuters
Amerika Serikat (AS) mengkritik serangan Israel terhadap fasilitas bahan bakar milik Iran. Serangan ini dinilai berpotensi memicu ketegangan regional sekaligus berdampak pada harga energi global.
Meskipun Israel telah memberi tahu militer AS sebelum operasi dilaksanakan, namun Washington tetap terkejut dengan luasnya cakupan serangan tersebut.
Axios melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut, bahwa Presiden Donald Trump tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak karena khawatir akan memicu kenaikan harga bensin.
“Presiden tidak menyukai serangan terhadap fasilitas minyak. Ia ingin menyelamatkan minyak itu, bukan membakarnya. Dan hal itu mengingatkan orang pada kenaikan harga bensin,” kata seorang penasihat Presiden AS Donald Trump, dikutip dari ANTARA, Selasa (10/3).
Serangan tersebut dikhwatirkan akan berdampak strategis yang berbalik arah dengan memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran serta mendorong kenaikan harga minyak global.
“Kami tidak berpikir itu adalah ide yang baik,” kata seorang pejabat senior AS tersebut.
Para pejabat AS juga menilai serangan tersebut dapat memperkuat dukungan publik terhadap kepemimpinan Iran serta mengguncang pasar energi global.
Dalam lapran Axios, serangan Israel terhadap Iran terjadi pada Sabtu (7/3/2026) dengan menargetkan sekitar 30 depot bahan bakar di berbagai wilayah, jumlah tersebut melebihi perkiraan pejabat AS, meskipun sebelumnya Israel telah memberi tahu Washington mengenai operasi tersebut.
Baca Juga: Menlu China Desak AS-Iran Hentikan Perang: Senjata Adalah Alat Malapetaka
Usai serangan, kebakaran besar dilaporkan terjadi di ibu kota Iran, Teheran, dengan asap tebal membubung di atas tangki penyimpanan bahan bakar dan kawasan industri.
Militer Israel menyatakan depot bahan bakar yang diserang digunakan pemerintah Iran untuk memasok kebutuhan energi, termasuk bagi unit-unit militernya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: