Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Sherly Tjoanda Ungkap Maluku Utara Tumbuh 34 Persen, Akui Manfaat Hilirisasi Belum Merata

Sherly Tjoanda Ungkap Maluku Utara Tumbuh 34 Persen, Akui Manfaat Hilirisasi Belum Merata Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Maluku Utara kini menjadi salah satu pusat penting dalam rantai pasok nikel global setelah berkontribusi sekitar seper tujuh produksi nikel dunia dan terhubung langsung dengan industri kendaraan listrik serta baja nirkarat.

Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menyebut transformasi tersebut mengubah posisi daerahnya dari sekadar penghasil sumber daya alam menjadi kawasan industri dengan pertumbuhan ekonomi tinggi.

Dalam sebuah diskusi bertajuk Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku di Jakarta, Sherly memaparkan capaian ekonomi daerah yang melonjak signifikan.

“Pertumbuhan ekonomi tahun lalu mencapai 34 persen secara tahunan dan pada triwulan I tahun ini sebesar 19,6 persen,” kata Sherly.

Namun di balik lonjakan tersebut, Sherly mengakui bahwa manfaat hilirisasi belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat lokal karena sebagian besar kebutuhan kawasan industri masih dipasok dari luar daerah.

Ia mengungkapkan nilai konsumsi kawasan industri mencapai sekitar Rp100 miliar per bulan atau sekitar Rp1,2 triliun per tahun, namun mayoritas masih belum diserap pelaku usaha lokal.

“Harapannya kebutuhan ayam, daging, telur, hingga beras nantinya dapat diproduksi secara lokal,” ujar Sherly.

Saat ini, hanya sekitar 20 persen kebutuhan konsumsi kawasan industri yang dipenuhi dari produksi lokal, sehingga ruang keterlibatan UMKM masih sangat besar.

Sherly menilai ke depan sektor UMKM, petani, dan nelayan harus lebih banyak masuk dalam rantai pasok industri, mulai dari katering, logistik, jasa perawatan, hingga kebutuhan operasional lainnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguatan sektor pertanian dan perikanan agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah bisa berkurang secara bertahap.

Di sisi lain, pengembangan industri hilirisasi nikel telah mendorong pembangunan kawasan industri seperti Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) yang menjadi pusat pengolahan nikel terintegrasi.

Sherly menegaskan bahwa hilirisasi telah membawa perubahan besar bagi ekonomi daerah, namun tahap berikutnya adalah memastikan manfaatnya lebih merata.

Baca Juga: Terapkan Tata Kelola Antargenerasi di Malut, Sherly Tjoanda: Ramah Lingkungan Bukan Hanya Soal Tekan Emisi Karbon

“Tahap berikutnya harus fokus pada manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tutur Sherly.

Pemerintah daerah juga tengah memperkuat pendidikan vokasi dan kerja sama dengan perguruan tinggi, termasuk Institut Pertanian Bogor (IPB), untuk menyiapkan tenaga kerja di bidang metalurgi dan teknik industri.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama