Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Laba Industri Pinjol Tembus Rp2,27 Triliun, OJK Dorong Konsolidasi

        Laba Industri Pinjol Tembus Rp2,27 Triliun, OJK Dorong Konsolidasi Kredit Foto: Azka Elfriza
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai konsolidasi di industri pendanaan daring atau peer-to-peer lending (pindar) akan menjadi bagian dari penguatan struktur industri ke depan. Konsolidasi dinilai penting untuk meningkatkan tata kelola sekaligus memperkuat ketahanan pelaku industri fintech lending.

        Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman, mengatakan penguatan regulasi dan permodalan menjadi faktor yang mendorong terjadinya konsolidasi di industri tersebut.

        “Industri pindar diperkirakan tetap tumbuh positif hingga akhir 2026 seiring penguatan regulasi dan permodalan untuk mendorong konsolidasi sebagai bagian dari penguatan struktur industri dan tata kelola,” ujar Agusman dalam lembar jawaban tertulis, Selasa (10/3/2026).

        OJK menilai konsolidasi perlu dilakukan untuk memastikan kapasitas permodalan yang memadai sehingga pelaku industri mampu menjalankan kegiatan usaha secara berkelanjutan.

        Selain penguatan struktur industri, kinerja sektor fintech lending juga mencatat pertumbuhan positif. Tercatat, akumulasi laba industri pindar selama satu tahun hingga Desember 2025 mencapai Rp2,27 triliun dan masih berlanjut tumbuh pada awal 2026.

        Baca Juga: Pindar Ingin Kebagian Dana Pemerintah Rp200 Triliun di Himbara, AFPI Ajukan Rp10 Triliun

        Baca Juga: OJK Prediksi Pembiayaan Gadai dan Pinjol Naik Jelang Lebaran

        Baca Juga: OJK Perketat Pengawasan Keamanan Siber Pinjol

        “Akumulasi laba industri pindar selama satu tahun hingga Desember 2025 tercatat sebesar Rp2,27 triliun. Pada Januari 2026, industri pindar mencatat laba sebesar Rp158,33 miliar,” kata Agusman.

        Pencapaian kinerja tersebut menunjukkan bahwa potensi pertumbuhan industri masih terbuka meskipun pelaku usaha tetap perlu menjaga kualitas pembiayaan dan memperkuat manajemen risiko.

        “Kinerja tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan yang tetap positif pada 2026 dengan tetap mengedepankan, antara lain, penguatan manajemen risiko dan kualitas pembiayaan,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Azka Elfriza
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: