Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Dunia Kembali Menyentuh 100 Dolar AS Akibat Ketegangan di Timur Tengah

        Harga Minyak Dunia Kembali Menyentuh 100 Dolar AS Akibat Ketegangan di Timur Tengah Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak dunia kembali mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan hari Kamis. Lonjakan ini dipicu oleh peningkatan serangan terhadap fasilitas minyak di Timur Tengah.

        Investor pun merasa khawatir akan terjadinya konflik yang berkepanjangan di wilayah tersebut. Gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz menjadi pusat perhatian pelaku pasar global.

        Menurut laporan Reuters, harga minyak mentah Brent naik sebesar 8,54 dolar AS. Nilai kenaikan tersebut setara dengan angka 9,28 persen.

        Brent kini diperdagangkan pada level 100,52 dolar AS per barel. Data ini tercatat pada pukul 03.54 waktu GMT.

        Pihak militer Iran memberikan pernyataan keras kepada Amerika Serikat pada hari Rabu. Pernyataan tersebut berisi peringatan mengenai potensi lonjakan harga di masa depan.

        "Bersiaplah harga minyak mencapai $200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional, yang telah Anda destabilisasi," kata juru bicara komando militer Iran. 

        Analis ING menyebutkan bahwa belum ada tanda-tanda penurunan ketegangan di wilayah Teluk. Mereka menilai gangguan aliran minyak di Selat Hormuz belum akan berakhir dalam waktu dekat.

        "Satu-satunya cara untuk melihat harga minyak turun secara berkelanjutan adalah dengan mengalirkan minyak melalui Selat Hormuz," kata analis ING. 

        Baca Juga: Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus US$200!

        Sementara itu, Badan Energi Internasional setuju melepaskan rekor 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Langkah ini dilakukan untuk menekan dampak lonjakan harga akibat perang yang sedang berlangsung.

        "Pengungkapan cadangan minyak oleh IEA mungkin hanya solusi sementara, karena gangguan pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan penghentian produksi besar-besaran di beberapa negara Timur Tengah dapat menyebabkan krisis pasokan jangka panjang," kata ahli strategi pasar di Moomoo ANZ, Tina Teng. 

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: