Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perang Ancam Krisis Keuangan Dunia, Ini Aset yang Bisa Diborong

        Perang Ancam Krisis Keuangan Dunia, Ini Aset yang Bisa Diborong Kredit Foto: Pixabay
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketegangan geopolitik yang memicu konflik bersenjata dinilai berpotensi memperbesar risiko krisis keuangan global. Investor dan penulis buku keuangan Robert Kiyosaki menyebut kondisi tersebut dapat memicu tekanan pada sektor perbankan dan pasar keuangan, sehingga mendorong investor memburu sejumlah aset tertentu yang dinilai lebih aman.

        Dalam unggahan di media sosial X, Kiyosaki menyatakan dirinya memperkuat investasi pada aset berbasis komoditas dan kripto sebagai langkah menghadapi potensi gejolak ekonomi global.

        “Minggu lalu saya menggunakan jutaan dolar uang tunai untuk membeli lebih banyak sumur minyak, emas, perak, dan Bitcoin,” tulis Robert Kiyosaki, dikutip Minggu (15/3/2026). 

        Ia menilai ketegangan geopolitik, khususnya di kawasan Selat Hormuz, berpotensi mendorong kenaikan harga energi dunia. Gangguan terhadap jalur distribusi minyak global dapat meningkatkan nilai komoditas energi.

        “Saya yakin selama Iran terus menembaki kapal tanker minyak di Selat Hormuz… harga minyak dari sumur minyak saya di Texas akan terus naik,” tulisnya.

        Menurut Kiyosaki, konflik geopolitik yang meluas dapat berdampak pada stabilitas sektor keuangan global. Ia menyebut sejumlah indikator menunjukkan tekanan mulai muncul pada lembaga keuangan dan pasar kredit.

        “Dana kredit swasta mulai panik ketika investor menarik uang mereka. Bank-bank besar dan institusi keuangan ternama juga sedang menghadapi masalah,” tulisnya.

        Ia juga merujuk pandangan analis ekonomi Jim Rickards yang menyatakan Amerika Serikat telah memasuki fase yang disebut sebagai “Depresi Baru”. Menurut Kiyosaki, kondisi tersebut menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap sistem ekonomi global.

        Di tengah potensi krisis tersebut, Kiyosaki menilai sebagian investor besar memilih memperkuat posisi kas untuk menghadapi penurunan harga aset di pasar. Ia menyinggung langkah investor Warren Buffett yang disebut menjual saham dan obligasi untuk memperbesar cadangan kas.

        “Karena ia menyimpan likuiditas untuk membeli aset-aset bernilai ketika harga jatuh setelah krisis,” tulis Kiyosaki.

        Kiyosaki menilai strategi tersebut memungkinkan investor membeli aset bernilai dengan harga lebih murah ketika pasar mengalami koreksi tajam.

        Ia menambahkan dalam periode krisis keuangan, aliran dana investor biasanya berpindah dari sektor yang melemah menuju aset lain yang dinilai lebih aman atau memiliki potensi kenaikan nilai.

        “Selalu ingat aturan utama saat terjadi kepanikan di perbankan… uang selalu berpindah ke tempat lain,” tulisnya.

        Baca Juga: Prabowo Minta Jajarannya Kaji Skenario WFH dan Pengurangan Hari Kerja Warga RI untuk Tekan Konsumsi BBM Jika Krisis Terjadi

        Baca Juga: Presiden Prabowo: Danantara Perkuat Ketahanan Ekonomi Nasional di Tengah Krisis Global

        Baca Juga: Waspada Krisis Global, Kadin Dorong Kemandirian dan Efisiensi Energi Dunia Usaha

        Menurut Kiyosaki, investor perlu memahami arah perpindahan dana global ketika tekanan terjadi pada sektor perbankan, bisnis, maupun pasar tenaga kerja.

        “Tugas Anda adalah mencari tahu ke mana uang yang keluar dari bank, bisnis, dan pekerjaan akan mengalir,” tulisnya.

        Meski demikian, Kiyosaki mengakui prediksi tersebut tetap memiliki kemungkinan tidak terjadi.

        “Apakah saya bisa salah? Ya,” tulisnya.

        Ia menyatakan tetap memiliki sumber arus kas dari bisnis dan properti yang dimilikinya jika prediksi tersebut tidak terbukti.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: