Rupiah Melemah ke Rp16.997 per Dolar AS Dipicu Geopolitik Timur Tengah
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah mendekati Rp17.000 pada perdagangan Senin (16/3/2026). Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda parkir di level Rp16.997 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah masih dipengaruhi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, terutama di kawasan Selat Hormuz yang semakin memanas. Apalagi, pasukan marinir Amerika Serikatdisebut telah mendekati Selat Hormuz untuk melakukan operasi militer darat.
“Di sisi lain, antara Iran, Amerika, dan Israel terus melakukan serangan timbal balik yang semakin intens dalam konflik tersebut. Ini mengindikasikan bahwa Iran masih sanggup melakukan perlawanan,” kata Ibrahim kepada wartawan.
Selain itu, kata Ibrahim, Presiden AS Donald Trump juga disebut telah memberikan ultimatum kepada pihak yang dapat menangkap atau membunuh pemimpin baru Iran dengan imbalan tertentu. Kondisi ini membuat ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat secara signifikan.
“Di sisi lain, wilayah-wilayah Amerika yang berada di Timur Tengah, seperti di Irak dan Uni Emirat Arab, termasuk Dubai, juga tidak luput dari serangan,” ujarnya.
Faktor pelemahan lainnya dipicu oleh sikap bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, yang akan kembali menggelar pertemuan untuk membahas arah kebijakan suku bunga. Pasalnya, kenaikan harga minyak mentah yang telah menembus level US$100 per barel berpotensi mendorong tekanan inflasi.
“Dengan inflasi tersebut, kemungkinan besar bank sentral Amerika masih akan mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi menaikkannya melihat kondisi yang ada,” jelasnya.
Sementara itu, dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi kondisi fiskal pemerintah. Kenaikan harga minyak mentah disebut berdampak pada potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Walaupun kita melihat bahwa defisit anggaran ini kemungkinan besar masih akan terus terjadi karena kenaikan harga minyak yang sudah di atas US$92,” ujarnya.
Baca Juga: Ada Libur Panjang, Rupiah Berpotensi Tertekan Hingga Mendekati Rp17.200 per USD
Baca Juga: Jelang Akhir Pekan, Rupiah Ditutup Melemah Nyaris Sentuh Rp17.000
Baca Juga: Purbaya Ngaku Dimaki di TikTok Gara-Gara Rupiah Tembus Rp17.000
Menurut Ibrahim, defisit anggaran idealnya tetap dijaga di kisaran 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi sejumlah pos belanja, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun di sisi lain, pemerintah tetap ingin program MBG berjalan sebagaimana mestinya meskipun berpotensi memperlebar defisit anggaran.
“Perdebatan-perdebatan ini yang membuat kegaduhan tersendiri. Dengan adanya MBG, sejumlah lembaga internasional juga menurunkan penilaiannya. Ini mengindikasikan bahwa sebagian kalangan internasional tidak menyukai MBG yang menggunakan anggaran dari Kementerian Pendidikan,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: