Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Israel: Amerika Serikat Ikut Koordinasi Serangan Ladang Gas Iran

        Israel: Amerika Serikat Ikut Koordinasi Serangan Ladang Gas Iran Kredit Foto: Reuters/WANA
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Israel dan Amerika Serikat (AS) melakukan koordinasi terkait dengan serangan terhadap ladang gas dari South Pars di Iran. Padahal Presiden Amerika Serikat, Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak mengetahui serangan tersebut.

        Dikutip dari Reuters, Israel menyebut pernyataan sang presiden bukan hal yang mengejutkan dan menggambarkan dinamika serupa dengan insiden sebelumnya saat mereka menyerang depot bahan bakar di Iran.

        Baca Juga: Jerman Tolak Permintaan Trump: Katanya Amerika Serikat Tak Perlu Bantuan Lawan Iran...

        Serangan South Pars sendiri memicu respons militer berupa serangan udara terhadap infrastruktur energi dalam kawasan, termasuk fasilitas di Qatar. Insiden ini disebut sebagai salah satu eskalasi terbesar sejak perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

        Israel sendiri belum secara resmi mengakui serangan tersebut. Namun Trump sebelumnya menyatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui operasi tersebut dan mengisyaratkan serangan lanjutan tidak akan terjadi kecuali ada serangan balik dari Iran.

        Teheran sendiri melakukan seranngan balasan atas penyerangan terhadap South Pars.  Serangan balasan dilaporkan menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas energi dalam kawasan. Beberapa target yang terdampak antara lain kompleks gas terbesar dunia, kilang minyak hingga fasilitas gas yang tersebar di Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

        Baca Juga: Diserang Amerika Serikat, Trump Ungkap Nasib Pemimpin Iran Mojtaba Khamenei

        Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global, mengingat kawasan tersebut merupakan pusat produksi minyak dan gas dunia. Eskalasi ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi serta memperbesar risiko ketidakstabilan pasar internasional jika konflik terus berlanjut.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: