Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Timur Tengah, Balas Ultimatum Trump soal Selat Hormuz

        Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Timur Tengah, Balas Ultimatum Trump soal Selat Hormuz Kredit Foto: Reuters
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pemerintah Iran mengancam akan menyerang infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah jika Amerika Serikat merealisasikan ancaman terhadap fasilitas energi Iran terkait pembukaan Selat Hormuz, memicu eskalasi baru yang berpotensi mengguncang pasokan energi global.

        Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa seluruh infrastruktur vital di kawasan dapat menjadi target balasan jika pembangkit listrik Iran diserang.

        “Segera setelah pembangkit listrik dan infrastruktur di negara kami diserang, infrastruktur vital serta infrastruktur energi dan minyak di seluruh kawasan akan dianggap sebagai target sah dan akan dihancurkan secara permanen,” ujarnya, mengutip Aljazeera, Jakarta, Senin (23/3/2026). 

        Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump sebelumnya mengultimatum Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listriknya.

        Dari sisi ekonomi, ancaman tersebut meningkatkan risiko gangguan serius terhadap jalur energi global. Selat Hormuz merupakan titik strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia, sehingga setiap eskalasi berpotensi mendorong lonjakan harga energi dalam jangka panjang.

        Ghalibaf juga menegaskan bahwa langkah balasan Iran akan berdampak langsung terhadap harga minyak global.

        Ia menyatakan bahwa serangan terhadap fasilitas Iran akan menyebabkan harga minyak meningkat dalam waktu yang panjang akibat terganggunya stabilitas kawasan.

        Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Selat Hormuz pada prinsipnya tetap terbuka, namun tidak untuk pihak yang dianggap melanggar kedaulatan Iran.

        “Selat ini terbuka untuk semua, kecuali bagi mereka yang melanggar wilayah kami,” ujarnya.

        Ia juga menanggapi ancaman militer terhadap Iran dengan menegaskan bahwa tekanan eksternal justru akan memperkuat solidaritas nasional.

        “Ilusi menghapus Iran dari peta menunjukkan keputusasaan terhadap kehendak bangsa yang memiliki sejarah panjang. Ancaman dan teror hanya akan memperkuat persatuan kami,” katanya.

        Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) turut menyatakan bahwa pihaknya siap menutup total Selat Hormuz jika Amerika Serikat melaksanakan ancamannya terhadap fasilitas energi Iran.

        Dalam pernyataan resminya, IRGC juga menyebut bahwa perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dapat menjadi target, termasuk fasilitas energi di negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

        Di tengah situasi tersebut, Iran menyatakan bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz pada dasarnya masih terbuka, kecuali untuk kapal yang terafiliasi dengan pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.

        Ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang telah memasuki pekan keempat antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang sebelumnya telah memicu gangguan pada distribusi energi, serangan terhadap infrastruktur, serta ketidakstabilan pasar global.

        Baca Juga: Trump Beri Waktu 48 Jam, Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka

        Baca Juga: Putin Coba Tawarkan Amerika Tukar Intelijen, Ketegangan NATO dan Krisis Hormuz Memanas

        Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS

        Perkembangan ini juga diikuti dengan intensifikasi upaya diplomasi. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan dilaporkan melakukan komunikasi dengan sejumlah pihak, termasuk Iran, Mesir, Uni Eropa, dan Amerika Serikat untuk membahas langkah penghentian konflik.

        Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan keterlibatan lebih luas komunitas internasional dalam konflik tersebut, dengan menuding Iran sebagai ancaman terhadap stabilitas kawasan.

        Eskalasi terbaru ini menandai meningkatnya risiko terhadap stabilitas energi global, di tengah ketergantungan tinggi dunia terhadap pasokan dari kawasan Teluk.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: