Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS

Selat Hormuz Memanas, 20 Negara Siap Jaga Jalur Minyak Dunia dari Konflik Iran-AS Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sebanyak 20 negara kini bersiap terlibat dalam upaya pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz di tengah eskalasi konflik global yang terus meningkat. Inisiatif ini dipimpin oleh United Kingdom sebagai respons atas gangguan serius terhadap distribusi energi dunia.

Langkah kolektif ini muncul setelah meningkatnya ketegangan akibat konflik antara Iran dengan United States dan sekutunya. Jalur strategis tersebut kini menjadi titik krisis yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi global.

Pada tahap awal, enam negara yakni Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Jepang lebih dulu menyatakan komitmen bersama. Mereka sepakat untuk mengambil langkah konkret dalam menjaga keamanan pelayaran internasional.

“Kami menyatakan kesiapan untuk berkontribusi langkah yang tepat untuk memastikan pelayaran aman di Selat Hormuz. Kami menyambut komitmen bangsa-bangsa yang terlibat dalam rencana persiapannya,” demikian pernyataan bersama keenam negara tersebut dikutip dari Sputnik Internasional.

Dalam pernyataan itu, mereka menegaskan bahwa gangguan terhadap jalur logistik energi bukan sekadar isu regional. Ancaman tersebut dinilai berpotensi mengganggu perdamaian dan keamanan global secara luas.

Selain itu, negara-negara tersebut juga mendorong penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil. Fokus utama diarahkan pada perlindungan fasilitas energi seperti minyak dan gas yang menjadi tulang punggung pasokan global.

“Gangguan terhadap pelayaran internasional dan rantai pasok energi global merupakan ancaman bagi perdamaian dan keamanan global,” lanjut isi pernyataan tersebut. 

Seiring perkembangan situasi, jumlah negara yang terlibat terus bertambah secara signifikan. Pada pembaruan terbaru, total partisipasi meningkat menjadi 20 negara yang siap berkontribusi.

Negara tambahan yang bergabung antara lain Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Denmark, hingga negara-negara Nordik seperti Norwegia, Swedia, dan Finlandia. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa isu ini telah menjadi perhatian global lintas kawasan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait: