Trump Ultimatum Iran Agar Buka Selat Hormuz, Sebut dapat Dikelola Bersama
Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Senin (23/3/2026), Trump menyatakan bahwa AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tidak membuka kembali Selat Hormuz, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu.
Ultimatum ini muncul hanya beberapa jam setelah serangan rudal Iran menghantam wilayah selatan Israel dan melukai lebih dari 100 orang.
Sebagai jalur utama distribusi minyak dunia, penutupan Selat Hormuz dalam hampir satu bulan terakhir telah mendorong harga minyak mentah Brent ke level US$112 per barel. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak tahun 2022 dan memberi dampak harga bahan bakar di berbagai negara, terutama di Asia dan negara berkembang.
Melansir CNN, Trump mengatakan bahwa Selat Hormuz akan segera kembali normal. "Itu akan segera dibuka jika ini berhasil," kataya.
Lalu, soal pengelolaan Selat Hormuz, Trump justru membuka kemungkinan dikelola bersama dengan Iran. "Mungkin aku, saya dan si Ayatollah, siapa pun si Ayatollah itu, siapa pun si Ayatollah berikutnya," katanya.
Baca Juga: Imbas Perang AS-Iran, Rupiah Diramal Tembus Rp20.400 per dolar AS
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menanggapi ancaman tersebut dengan mengatakan bahwa Iran hanya memberlakukan pembatasan bagi kapal-kapal dari negara-negara yang ikut menyerang Iran.
Dilansir dari The Guardian, Araghchi menegaskan bahwa Iran akan membantu negara-negara lain yang tidak terlibat dalam konflik, dan menolak tuntutan AS untuk membuka penuh selat tanpa syarat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: