Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekspor Mobil Sangat Terdampak Akibat Konflik di Selat Hormuz, Asosiasi Sudah Ancang-Ancang Ubah Target Produksi

        Ekspor Mobil Sangat Terdampak Akibat Konflik di Selat Hormuz, Asosiasi Sudah Ancang-Ancang Ubah Target Produksi Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Industri otomotif Thailand yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara di Asia Tenggara yang kuat secara manufaktur otomotif tengah menghadapi tekanan yang semakin besar akibat konflik di Timur Tengah.

        Menurut Federasi Industri Thailand (FTI), perang antara Israel-AS dan Iran telah mengganggu rute pelayaran melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada tertundanya ekspor kendaraan ke wilayah Timur Tengah.

        Kondisi ini memaksa pihak FTI untuk meninjau kembali proyeksi target produksi mobil mereka pada tahun ini.

        Timur Tengah merupakan pasar ekspor otomotif terbesar ketiga bagi Thailand, setelah Asia dan Australia dengan tingkat permintaan yang sangat tinggi, khususnya untuk jenis mobil pikap.

        Namun, konflik yang tengah berlangsung ini telah memperlambat pengiriman ke sejumlah negara tujuan utama seperti Arab Saudi, Oman, dan Uni Emirat Arab, ungkap Surapong Paisitpatanapong, Wakil Ketua sekaligus Juru Bicara Klub Industri Otomotif FTI.

        "FTI terus memantau perkembangan perang yang berubah dengan sangat cepat ini. Kawasan Timur Tengah adalah pasar ekspor yang krusial bagi Thailand, terutama untuk segmen mobil pikap," kata Surapong disitat dari Bangkok Post.

        Akibat kekhawatiran akan adanya serangan terhadap kapal kargo, kapal-kapal jenis roll-on/roll-off (Ro-Ro) yang biasa mengangkut mobil, sepeda motor, dan truk, kini harus menahan pengiriman lebih dari 200.000 unit kendaraan yang rencananya akan dikirim ke Timur Tengah.

        Pada awal tahun ini, pihak asosiasi sebenarnya telah menetapkan target produksi sebanyak 1,5 juta kendaraan untuk tahun 2026. Angka tersebut mencakup 950.000 unit untuk pasar ekspor dan 550.000 unit untuk penjualan domestik.

        Sayangnya, performa ekspor kini mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Pada bulan Februari, pengiriman mobil turun 0,05% secara tahunan (year-on-year) menjadi 81.195 unit, di mana penurunan ini terjadi secara merata di wilayah Asia, Oseania, Australia, dan Timur Tengah. Total ekspor selama bulan Januari hingga Februari juga ikut anjlok sebesar 2,76% menjadi 139.600 unit.

        Lebih lanjut, industri otomotif juga dihadapkan pada ancaman rantai pasok di luar masalah pengiriman pelayaran. Pasokan helium, bahan krusial dalam pembuatan semikonduktor, turut tersendat setelah fasilitas Ras Laffan di Qatar salah satu pusat produksi helium terbesar di dunia juga turut terdampak. Insiden ini mengakibatkan lumpuhnya sekitar sepertiga dari total pasokan helium global.

        Sementara itu, angka penjualan di dalam negeri juga tak luput dari tekanan. Penjualan mobil pada bulan Februari mengalami penurunan sebesar 2,17% secara tahunan menjadi 48.242 unit.

        Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh anjloknya penjualan kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) setelah masa berlaku program insentif EV3.0 dari pemerintah resmi berakhir.

        Kriteria pemberian kredit yang makin ketat dari pihak perbankan dan perusahaan pembiayaan (leasing) juga turut memperlambat laju pembelian masyarakat.

        Meski diadang berbagai tantangan, secara keseluruhan penjualan domestik pada periode Januari hingga Februari masih mencatatkan pertumbuhan positif.

        Angkanya naik sebesar 25,5% secara tahunan menjadi 122.218 unit, yang banyak ditopang oleh tingginya permintaan BEV pada periode sebelumnya. Adapun untuk total produksi mobil pada periode yang sama, jumlahnya juga meningkat sebesar 6,87% menjadi 236.338 unit.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: