Tak Dibantu Soal Iran, Trump Kini Enggan Penuhi Komitmen Amerika Serikat di NATO
Kredit Foto: Istimewa
Amerika Serikat memberikan sinyal bahwa pihaknya tak akan memenuhi komitmennya dalam aliansi dari North Atlantic Treaty Organization (NATO). Hal ini menyusul tak adanya bantuan dalam perangnya dengan Iran.
Dikutip dari Reuters, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali memicu kontroversi setelah menyatakan bahwa pihaknya tidak harus selalu berada di garis depan untuk membela sekutu dalam aliansi dari NATO.
Baca Juga: Update Perang Iran, Amerika Serikat Tetiba Hubungi Pemimpin Kurdi
Trump mengungkapkan kekecewaannya terhadap negara-negara dalam aliansi tersebut yang dinilai tidak memberikan dukungan material kepadanya dalam konflik melawan Iran. Konflik itu sendiri kini telah hampir memasuki periode satu bulan.
Menurut Trump, Amerika Serikat selama ini selalu siap membantu sekutu, namun ia mempertanyakan apakah komitmen tersebut masih relevan jika tidak mendapat balasan yang setara dari NATO.
Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan apakah pihaknya masih perlu membela negara-negara dalam aliansi tersebut dalam kondisi saat ini. Hal ini menjadi sinyal bahwa pihaknya tak begitu yakin dengan relevansi aliansi dari NATO.
Komitmen Amerika Serikat terkait dengan prinsip pertahanan kolektif alinasi tersebut, khususnya pasal lima yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh aliansi, kini dipertanyakan.
Adapun Hubungan Amerika Serikat dan Eropa yang mayoritas negaranya merupakan anggota aliansi terkait dilaporkan kembali memburuk pada 2026. Ketegangan ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk keputusan tanpa konsultasi untuk menyerang wilayah dari Iran.
Eropa sebelumnya juga dikejutkan oleh kontroversi yang dilakukan oleh Trump. Sang presiden diketahui berupaya untuk melakukan aneksasi terhadap Greenland. Pulai tersebut merupakan bagian dari Denmark.
Trump juga dikenal memiliki hubungan yang tidak stabil dengan NATO. Dalam berbagai kesempatan sebelumnya, ia kerap mengkritik negara-negara anggota yang dianggap tidak memenuhi kewajiban belanja pertahanan.
Bahkan Trump sempat menyatakan bahwa negara-negara yang tidak memenuhi komitmen pertahanan seharusnya tidak mendapatkan perlindungan penuh dari aliansi. Pernyataan tersebut sempat memicu kontroversi luas karena dinilai dapat melemahkan solidaritas dari NATO.
Baca Juga: China Peringatkan Amerika Serikat Terkait Pabrik Amunisi di Filipina
Pernyataan Trump baru-baru ini kembali membuka pertanyaan besar mengenai masa depan dari NATO. Dengan meningkatnya perbedaan, stabilitas geopolitik dalam aliansi tersebut menghadapi tantangan baru yang perlu dicermati dunia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar