Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        AS Kerahkan 50.000 Tentara ke Timur Tengah, Sinyal Perang Besar Makin Nyata?

        AS Kerahkan 50.000 Tentara ke Timur Tengah, Sinyal Perang Besar Makin Nyata? Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat terus memperbesar kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan lebih dari 50.000 tentara di tengah eskalasi konflik Iran. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa konflik berpotensi meluas dan berdampak pada stabilitas global, termasuk pasar energi.

        Komando Pusat AS atau US Central Command mengonfirmasi pengerahan tersebut didukung sekitar 200 pesawat tempur serta dua kapal induk di kawasan. Penambahan kekuatan ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan level normal kehadiran militer AS.

        Laporan menyebut jumlah pasukan meningkat setelah kedatangan tambahan 2.500 marinir dan 2.500 pelaut dalam beberapa waktu terakhir. Dengan tambahan tersebut, total kekuatan militer AS kini sekitar 10.000 personel di atas kapasitas normal di kawasan Timur Tengah.

        Angka tersebut bahkan belum termasuk sekitar 4.500 personel yang bertugas di kapal induk USS Gerald R. Ford. Kapal tersebut diketahui meninggalkan Laut Merah pada pertengahan Maret untuk menjalani perawatan setelah insiden kebakaran.

        Eskalasi ini berakar dari konflik yang dimulai sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran. Sejumlah kota besar, termasuk Teheran, menjadi sasaran serangan dengan alasan ancaman rudal dan nuklir.

        Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei bersama sejumlah tokoh penting lainnya. Iran kemudian membalas melalui serangan ke Israel dan pangkalan militer AS di beberapa negara Timur Tengah.

        Di tengah eskalasi yang belum mereda, Washington bahkan mempertimbangkan opsi pengerahan pasukan darat ke wilayah Iran. Salah satu skenario yang muncul adalah penguasaan Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor sekitar 90 persen minyak Iran.

        Langkah agresif ini memicu kritik dari Rusia yang menilai AS justru memperburuk situasi. Asisten Presiden Rusia Yury Ushakov secara terbuka menyindir langkah Washington.

        “Mereka kini tengah sibuk menyelesaikan situasi seputar Iran, situasi yang mereka ciptakan sendiri bersama teman-teman Israel mereka,” ujar Ushakov kepada jurnalis Vesti, Pavel Zarubin.

        “Kita hanya bisa mendoakan semoga berhasil, karena kelanjutan pengeboman ini sungguh luar biasa,” katanya menambahkan. 

        Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya ketegangan geopolitik antara kekuatan besar dunia. Kondisi ini juga menandakan bahwa penyelesaian konflik masih jauh dari kata tuntas.

        Sejumlah analis menilai Iran justru menunjukkan kemampuan militer yang tidak bisa diremehkan. Mereka dinilai mampu memanfaatkan sumber daya secara strategis meski tidak sekuat Amerika Serikat secara keseluruhan.

        Selain itu, Iran juga disebut memiliki keunggulan dalam posisi negosiasi karena kontrol terhadap jalur strategis seperti Selat Hormuz. Hal ini memperkuat daya tawar Teheran di tengah tekanan militer yang meningkat.

        Baca Juga: Diakui Trump, Internal Gedung Putih Ribut Soal Perang Amerika Serikat dan Iran

        Lonjakan jumlah tentara AS menjadi indikator meningkatnya risiko konflik berkepanjangan. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan volatilitas pasar global.

        Indonesia sebagai negara net importir energi berpotensi terkena dampak dari kenaikan harga minyak tersebut. Tekanan dapat muncul pada neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, hingga inflasi domestik.

        Pelaku usaha juga perlu mewaspadai kenaikan biaya logistik dan gangguan rantai pasok. Sementara itu, pasar saham berpotensi bergerak fluktuatif seiring meningkatnya sentimen risk-off global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: