Hubungi Trump, Australia Mulai Pertanyakan Tujuan Perang Iran-Amerika Serikat
Kredit Foto: Reuters/Alex Ellinghausen
Australia mempertanyakan tujuan perang dari Israel, Amerika Serikat dan Iran. Canberra belum melihat adanya kejelasan operasi yang dilakukan oleh Tel Aviv dan Washington di Timur Tengah.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese mengatakan bahwa pihaknya telah menghubungi sosok dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ia mempertanyakan tujuan utama perang yang sedang berlangsung di Iran.
Baca Juga: Perang Meletus Kembali, Diplomasi Iran-Amerika Serikat Terancam Konflik Afghanistan dan Pakistan
Albanese menegaskan bahwa dunia membutuhkan arah yang lebih jelas dari konflik tersebut, sekaligus menyerukan upaya deeskalasi untuk mencegah dampak yang lebih luas di Timur Tengah.
Ia menekankan pentingnya meredakan ketegangan yang kini telah meluas dan menimbulkan dampak global. Konflik tersebut diketahui telah menewaskan ribuan orang dan memicu gangguan besar terhadap pasokan energi dunia.
Perang ini juga disebut sebagai salah satu gangguan terbesar terhadap rantai pasok energi global, yang berdampak langsung pada perekonomian dunia. Lonjakan harga energi serta ketidakpastian geopolitik menjadi perhatian utama banyak negara, termasuk Australia.
Australia sendiri telah memberikan dukungan terbatas dengan mengirimkan pesawat untuk membantu pertahanan dari United Arab Emirates. Namun, Canberra menegaskan tidak akan mengirimkan kapal perang untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Strait of Hormuz.
Adapun Amerika Serikat baru-baru ini menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan negosiasi perdamaian dengan Iran. Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdamai dengan Iran.
Trump dalam hal ini memuji rezim dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Meski tak menyebutnya secara langsung, ia mengatakan pemimpin baru dari negara terkait cukup rasional. Oleh karenanya, ia optimistis akan mencapai kesepakatan dengan Teheran. Meski demikian, ia juga menyebut ada kemungkinan bahwa kesepakatan tidak tercapai dengan Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian di sisi lain tengah menkaji proposal itu. Ia juga menegaskan pentingnya membangun kepercayaan sebagai dasar untuk membuka jalur negosiasi. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya belum melupakan bagaimana serangan terjadi tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Washington.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf juga menyoroti bahwa ada ketidakkonsistenan sikap dari Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan upaya membahas negosiasi damai sambil mempersiapkan invasi darat yang dilakukan oleh Washington.
Qalibaf menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tekanan atau “penghinaan” dari pihak mana pun. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya masih ingat bagaimana negaranya diserang tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Amerika Serikat.
Baca Juga: Paus Leo Kecam Perang Iran-Amerika Serikat: Tuhan Tidak Akan Mendengar Doa Pemimpin Berlumuran Darah
Adapun Israel menyatakan tidak akan menghentikan serangan terhadap Iran. Tel Aviv menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilakukan dengan menyasar fasilitas militer dari Tegeran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: