Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pasukan Elite 82nd Airborne Dikerahkan, Amerika Serikat Incar Sejumlah Objektif di Iran

        Pasukan Elite 82nd Airborne Dikerahkan, Amerika Serikat Incar Sejumlah Objektif di Iran Kredit Foto: US Army Photo/Carrie David Campbell
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat mulai mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah. Tentara hingga pasukan elite mulai dikirimkan untuk menyelesaikan perangnya dengan Iran.

        Dikutip dari Reuters, Amerika Serikat dilaporkan telah selesai mengirimkan 82nd Airborne Division. Ia merupakan pasukan elite yang dapat membuka berbagai opsi dalam perang untuk Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        Baca Juga: Hubungi Trump, Australia Mulai Pertanyakan Tujuan Perang Iran-Amerika Serikat

        Pasukan yang dikerahkan mencakup elemen markas, unit logistik serta satu brigade tempur lengkap. ia juga akan melengkapi ribuan personal marinir yang telah dikirimkan oleh Washington. Kini Timur Tengah memiliki ribuan pasukan dari angkatan laut, pasukan khusus dan unit lainnya dari Amerika Serikat.

        Adapun Washington tidak mengungkapkan lokasi penempatan mereka secara detail. Namun pengerahan ini disebut sebagai langkah antisipasi untuk memperkuat kapasitas operasi militer dari Amerika Serikat di Iran.

        Hingga kini, belum ada keputusan resmi untuk mengirim pasukan darat langsung ke Iran. Namun, kehadiran pasukan tambahan ini membuka berbagai kemungkinan, termasuk operasi militer terbatas dalam dalam wilayah terkait jika diperlukan.

        Salah satu opsi yang dibahas adalah penguasaan dari Kharg Island. Ia diketahui menjadi pusat sekitar sembilan puluh persen ekspor minyak dari Iran. Operasi ini dinilai sangat berisiko karena mereka memiliki kemampuan menyerang pulau tersebut menggunakan rudal dan drone.

        Amerika Serikat juga sebelumnya telah mempertimbangkan opsi melakukan operasi darat untuk mengamankan uranium yang diperkaya dalam wilayah dari Iran. Mereka juga bisa meluncurkan operasi darat untuk menjamin keamanan jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz. Beberapa skenario bahkan mencakup pengerahan pasukan darat dalam garis pantai untuk mendukung operasi tersebut.

        Penggunaan pasukan darat berpotensi membawa risiko besar, baik secara militer maupun politik. Dukungan publik terhadap hal tersebut dilaporkan rendah. Trump juga sebelumnya berjanji untuk menghindari keterlibatan militer besar di Timur Tengah.

        Sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berdamai dengan Iran. Trump dalam hal ini memuji rezim dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

        Meski tak menyebutnya secara langsung, ia mengatakan pemimpin baru dari negara terkait cukup rasional. Ia menegaskan bahwa pengganti sang pemimpin menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap dialog. Meski demikian, ia juga menyebut ada kemungkinan bahwa kesepakatan tidak tercapai dengan Iran.

        Sementara Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan bahwa ada ketidakkonsistenan sikap dari Amerika Serikat. Hal ini terkait dengan upaya membahas negosiasi damai sambil mempersiapkan invasi darat yang dilakukan oleh Washington.

        Qalibaf menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menerima tekanan atau “penghinaan” dari pihak mana pun. Ia memberikan sinyal bahwa pihaknya masih ingat bagaimana negaranya diserang tak lama usai negosiasi pengembangan nuklir dengan Amerika Serikat.

        Baca Juga: Trump Klaim Amerika Serikat Telah Berunding dengan Iran, Begini Hasilnya

        Adapun Israel menyatakan tidak akan menghentikan serangan terhadap Iran. Tel Aviv menegaskan bahwa operasi militer akan terus dilakukan dengan menyasar fasilitas militer dari Tegeran.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: