Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Iran Sebut Proposal Amerika Serikat Tak Realistis, Pertimbangkan Keluar NPT

        Iran Sebut Proposal Amerika Serikat Tak Realistis, Pertimbangkan Keluar NPT Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Iran menyatakan telah menerima proposal perdamaian dari Amerika Serikat. Namun pihaknya menegaskan penolakannya atas isi proposal tersebut dengan menilainya sangat tidak realistis.

        Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menyebut proposal tersebut tidak logis dan berlebihan. Ia menyoroti sejumlah isi proposal yang dikirimkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

        Baca Juga: Manuver Amerika Serikat, Trump Ancam Lenyapkan Pulau Kharg di Iran

        Menurut laporan, proposal damai tersebut berisi sejumlah tuntutan untuk Iran. Teheran di dalamnya diharuskan untuk menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Mereka juga diminta untuk membatasi program rudal balistik dan menghentikan dukungan mereka terhadap sekutu regional di Timur Tengah.

        Selain itu, ada juga tuntutan yang mengejutkan terkait dengan Selat Hormuz. Amerika Serikat disebut ingin memiliki kontrol atas selat yang menjadi jalur vital perlayaran tanker minyak itu.

        Baghaei menegaskan bahwa proposal itu tidak dapat diterima. Ia menegaskan bahwa pihaknya dalam kondisi diserang secara militer, sehingga seluruh upaya difokuskan pada pertahanan nasional.

        "Posisi kami jelas. Kami sedang mengalami agresi militer. Oleh karena itu, semua upaya dan kekuatan kami difokuskan untuk membela diri," katanya.

        Iran juga tengah meninjau kemungkinan keluar dari Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT). Ia merupakan perjanjian internasional yang mengatur penggunaan energi nuklir untuk tujuan damai. Langkah ini dinilai dapat mengubah peta geopolitik global, terutama terkait isu proliferasi senjata nuklir.

        Pernyataan ini menunjukkan kecilnya peluang kesepakatan damai dalam waktu dekat, meskipun jalur diplomasi masih dibuka melalui negara-negara perantara seperti Pakistan. Ia menyatakan kesiapan untuk menjadi tuan rumah pembicaraan damai guna mengakhiri konflik antara Iran, Israel dan Amerika Serikat. 

        Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan pembicaraan dalam beberapa hari ke depan untuk mencapai penyelesaian yang komprehensif dan berkelanjutan antara berbagai pihak dari Timur Tengah.

        Pakistan juga membuka kemungkinan menjadi lokasi negosiasi langsung untuk Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, belum ada kepastian apakah kedua negara akan hadir ke Islamabad.

        Adapun Trump menyatakan bahwa pihaknya tengah bernegosiasi dengan rezim yang lebih rasional di Iran. Namun memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan berujung pada serangan besar.

        Namun Trump juga kembali mengeluarkan ancaman keras terkait konflik yang masih berlangsung dengan Iran. Ia mengancam akan menghancurkan berbagai fasilitas vital negara tersebut jika tak ada pembukaan dari Selat Hormuz.

        Trump mengatakan bahwa pihaknya akan menghancurkan pembangkit listrik, sumur minyak, sumber air bersih hingga pusat ekspor minyak dari Iran, Kharg Island.

        Baca Juga: Efek Perang Iran, Pesawat Amerika Serikat Tak Diizinkan Gunakan Langit Spanyol

        "Jika Selat Hormuz tidak segera dibuka untuk bisnis, kami akan mengakhiri 'kunjungan' kami yang menyenangkan dengan meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya semua pembangkit listrik, sumur minyak dan Pulau Kharg," tegas dari Trump.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: