Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PT Timah Bidik Pengelolaan REE, Incar Potensi 1,2 Juta Ton Monasit

        PT Timah Bidik Pengelolaan REE, Incar Potensi 1,2 Juta Ton Monasit Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Emiten pertambangan timah milik negara, PT Timah Tbk (TINS), menyatakan rencana operasional untuk mulai mengelola mineral, antara lain Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE).

        Langkah ini dilakukan seiring perubahan arah kebijakan pemerintah serta temuan potensi mineral di wilayah Izin Usaha Pertambangan (IUP) perusahaan.

        Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro menjelaskan, fokus perusahaan saat ini mulai bergeser untuk mengoptimalkan mineral selain biji timah.

        “Sesuai dengan kebijakan pemerintah yang baru, jadi kami mulai mengarah kepada pengelolaan REE atau mineral ikutan."

        "Yang diyakini nanti akan sangat memberikan kontribusi untuk devisa negara yang jauh lebih besar,” ujar Reatu dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR, Jakarta, Selasa (31/3/2026).

        Reatu menambahkan, perusahaan masuk ke dalam lingkungan strategi untuk mengakhiri rencana tersebut.

        “Alhamdulillah tahun ini, akhir tahun 2025 kami mulai tergabung dalam konsorsium yang dipimpin oleh kementerian Dikti."

        "Jadi kami PT Timah bergabung dengan PT Perminas untuk mengakhiri program pemerintah untuk mengelola mineral REE atau mineral ikutan, mineral tanah jarang,” ungkap Reatu.

        Peta Jalan Industri

        Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Usaha PT Timah Suhendra Yusuf Ratu memaparkan, perusahaan telah menyusun peta jalan internal untuk membangun industri REE secara bertahap.

        “Dalam pemanfaatan ini kami rencanakan dari tahun 2025 yang sekarang ini sudah kami lakukan sejak tahun 2025 lalu dan insyaallah nanti pada tahun 2028 itu secara industrinya REE ini dapat dibangun seperti itu,” papar Suhendra.

        Terkait data ketersediaan mineral, Suhendra menyebutkan adanya temuan potensi yang signifikan di wilayah operasional perusahaan di Bangka Belitung.

        Berdasarkan penelitian bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), teridentifikasi cadangan monasit sebagai bahan baku utama REE.

        “Insyaallah kita sudah mendapatkan satu data yang cukup fantastis, yaitu potensi indikatif daripada monasit sebagai bahan utama dari logam tanah jarang yang ada di IUP PT Timah itu pada kisaran 1,2 juta ton monasit."

        "Yang ini insyaallah nanti akan kami coba validasikan ya dengan cara melakukan proses validasi eksplorasi dan proses membosankan di site-site ataupun titik-titik tertentu,” jelas Suhendra.

        Kerja Sama Riset

        Suhendra berpikir kolaborasi terintegrasi dengan ITB mencakup tiga poin utama, yakni kajian eksplorasi mineral ikutan timah, kajian optimasi pengolahan logam tanah jarang atau LTJ, serta kajian pemanfaatanterakdari hasil pemurnian ataupun peleburan dari logam timah.

        Baca Juga: Serapan Domestik Minim, AETI Soroti Tantangan Pasar Hilirisasi Timah

        Selain itu, Suhendra melaporkan pihak Badan Industri Mineral (BIM) yang dipimpin oleh Mendiktisaintek, juga ikut menginisiasi pengelolaan ini melalui pembentukan embrio industri yang berlokasi di Tanjung Ular, Muntok.

        Strategi tersebut mencakup pemanfaatan mineral ikutan seperti ilmenit dan zirkon. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Yaspen Martinus

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: