Rupiah Menguat ke Rp16.983, Ditopang Surplus Dagang dan Sentimen Global
Kredit Foto: Antara/Dhemas Reviyanto
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis dan kembali meninggalkan level Rp17.000 pada perdagangan Rabu (1/4/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp16.983 per dolar AS, menguat dari penutupan sebelumnya Rp17.041 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah sejalan dengan kinerja perdagangan Indonesia yang positif. Neraca perdagangan RI mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026.
“Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus perdagangan selama 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari yang sebesar US$0,95 miliar,” ujarnya kepada wartawan.
Surplus pada Februari terutama ditopang oleh komoditas nonmigas sebesar US$2,19 miliar. Komoditas utama penyumbang surplus antara lain lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Dari sisi kinerja perdagangan, nilai ekspor Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$22,17 miliar atau naik 1,01% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sementara itu, nilai impor mencapai US$20,89 miliar atau tumbuh 10,85% (yoy).Sinyal Gencatan Senjata Dorong Sentimen Global
Dari faktor eksternal, penguatan rupiah juga dipengaruhi sentimen positif pasar global menyusul sinyal gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan Washington berpotensi menarik diri dari konflik dalam dua hingga tiga minggu serta menilai Iran tidak perlu membuat kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Namun, laporan The Wall Street Journal menyebut Trump juga membuka peluang mengakhiri kampanye militer AS terhadap Iran meski Selat Hormuz masih belum sepenuhnya normal.
Baca Juga: Dolar Makin Perkasa, Rupiah Takluk ke Rp17.041
Baca Juga: PMI Manufaktur Maret 2026 Turun ke 50,1, Kadin Soroti Pelemahan Permintaan Ekspor
Baca Juga: Menperin Terkejut, PMI Manufaktur RI Tetap Ekspansif di Tengah Tekanan Global
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran siap mengakhiri perang, meski tetap mengajukan sejumlah syarat utama.
Kondisi ini memunculkan harapan terhadap peluang negosiasi, meskipun masih disertai ketidakpastian.
“Terlepas dari sinyal diplomatik tersebut, reaksi pasar cenderung terbatas. Pelaku pasar masih menyeimbangkan harapan gencatan senjata dengan risiko gangguan pasokan yang berlanjut,” ujar Ibrahim.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: