Rupiah Sentuh Rp17.002, Defisit APBN Karena Pembengkakan Subsidi BBM Picu Kekhawatiran
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (2/4/2026). Mata uang Garuda kembali menyentuh level Rp17.002 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.983 per dolar AS.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh kekhawatiran pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurutnya, defisit berpotensi melebar seiring pembengkakan belanja subsidi akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu konflik di Timur Tengah.
“Setiap kenaikan harga minyak US$1 per barel akan menambah sekitar Rp6 triliun terhadap defisit, yang sebelumnya ditargetkan Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB. Kendati demikian, masih diyakini tetap berada di bawah batas 3%,” ujarnya.
Pelebaran defisit tersebut tidak lepas dari meningkatnya belanja subsidi. APBN tetap difungsikan sebagai shock absorberuntuk meredam dampak kenaikan harga minyak, terutama setelah pemerintah memutuskan tidak menaikkan harga BBM.
Akibatnya, anggaran subsidi energi berpotensi membengkak hingga sekitar Rp100 triliun.
Baca Juga: Rupiah Menguat ke Rp16.983, Ditopang Surplus Dagang dan Sentimen Global
Baca Juga: Dolar Makin Perkasa, Rupiah Takluk ke Rp17.041
Dari faktor eksternal, pelemahan rupiah juga dipicu pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut Amerika Serikat akan terus melanjutkan serangan terhadap Iran, termasuk pada target energi dan minyak dalam beberapa pekan ke depan.
“Trump mengatakan dalam pidato yang disiarkan kepada publik bahwa militer AS hampir menyelesaikan tujuannya dalam konflik dengan Iran, namun tidak memberikan jangka waktu yang spesifik,” jelas Ibrahim.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Annisa Nurfitri