Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Sci-Fi dan Teknologi XR Jadi Nafas Baru Film Nasional Lewat 'Pelangi di Mars'

        Sci-Fi dan Teknologi XR Jadi Nafas Baru Film Nasional Lewat 'Pelangi di Mars' Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Film Pelangi di Mars dinilai menjadi terobosan baru dalam industri perfilman Indonesia, dengan menggabungkan genre science fiction yang jarang diangkat, dengan pemanfaatan teknologi extended reality (XR).

        Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengapresiasi keberanian film tersebut, dalam mengeksplorasi tema yang belum banyak digarap di Indonesia.

        “Satu hal penting, science fiction itu juga genre-nya jarang diangkat orang."

        "Isu lingkungan juga jarang diangkat orang,” katanya dalam sambutan di acara Intimate Screening bersama Kabinet Merah Putih di Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2026).

        Menurutnya, ada tiga aspek utama yang menjadi kekuatan film ini.

        Pertama, keberanian mengangkat genre science fiction yang dipadukan dengan isu lingkungan, menjadikannya berbeda dari kebanyakan film nasional.

        Kedua, inovasi dalam penggunaan teknologi XR berbasis Unreal Engine.

        Teknologi yang umumnya digunakan dalam pengembangan gim, kini diadaptasi ke produksi film untuk menghadirkan pengalaman yang lebih imersif.

        Dengan teknologi tersebut, penonton dapat merasakan sensasi seolah berada langsung di dalam cerita, termasuk saat berada di pesawat hingga menjelajahi planet Mars.

        Ketiga, skala produksi yang melibatkan sumber daya manusia dalam jumlah besar.

        Film ini dikerjakan oleh sekitar 300 animator dan 500 kru selama lima tahun, menunjukkan keseriusan dalam penggarapan proyek.

        Di sisi lain, Riefky menilai industri film Indonesia tengah menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.

        Pada 2025, tercatat sekitar 130 juta tiket bioskop terjual, dengan sekitar 60% di antaranya merupakan film nasional.

        Sementara, pada 2026 jumlah penonton telah mendekati 15 juta, dengan sekitar setengahnya berasal dari enam film Indonesia yang tayang selama periode libur Lebaran.

        “Antusiasme penonton ada, demand-nya ada, supply-nya juga ada, tetapi perlu dukungan kita semua."

        "Teman-teman dari kabinet Merah Putih, bagaimana ini bisa berkualitas, sustain, dan juga memberikan dorongan kepada generasi muda terutama yang berada di industri film nasional dan industri kreatif,” ujarnya.

        Pemerintah, lanjutnya, akan terus mendorong penguatan industri film melalui berbagai dukungan, mulai dari akses pasar hingga pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif.

        Baca Juga: Pelangi di Mars: Lompatan Besar Film Fiksi Ilmiah Indonesia

        Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam industri ini sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing nasional di kancah global.

        “Mari mendukung film nasional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga untuk mendunia,” tambahnya. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: