Kredit Foto: Istimewa
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyebut penguatan harga komoditas mineral memberi tambahan ruang penerimaan negara, tetapi lonjakan harga minyak global justru menjadi ancaman utama bagi ketahanan fiskal Indonesia pada 2026.
Dalam laporan Monitoring Issue of Food, Energy and Sustainable Development edisi Maret 2026, INDEF mencatat harga emas melonjak hingga US$5.019 per ons atau tumbuh 62,8% secara tahunan. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketidakpastian global serta lonjakan permintaan aset safe haven di tengah eskalasi konflik geopolitik dan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi.
Selain emas, harga nikel juga bergerak stabil di kisaran US$17.000 per ton atau naik 6,7% secara tahunan. Indonesia yang menyumbang sekitar 65% produksi nikel global dinilai memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan pasar, terutama setelah periode peningkatan produksi yang sempat memicu kelebihan pasokan global dalam beberapa tahun terakhir.
Sejalan dengan dinamika tersebut, pemerintah melakukan penyesuaian produksi melalui revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Dengan asumsi produksi sekitar 150 juta ton dan tarif royalti 14%, INDEF memperkirakan potensi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor nikel berada pada kisaran Rp17,24 triliun hingga Rp22,98 triliun, bergantung pada pergerakan harga global.
Pada sektor batu bara, produksi Indonesia yang mencapai sekitar 790 juta ton pada 2025 turut mendorong kondisi kelebihan pasokan global. Pemerintah kemudian menyesuaikan target produksi 2026 menjadi sekitar 580 juta ton.
Meski produksi ditekan, potensi PNBP batu bara diperkirakan tetap berada pada kisaran Rp47,85 triliun hingga Rp71,78 triliun. Sebagian produksi dialokasikan untuk kebutuhan domestik melalui skema domestic market obligation (DMO) sekitar 254 juta ton atau 32% dari total produksi nasional.
Di tengah penguatan harga mineral, INDEF juga mencatat lonjakan harga energi global. Harga minyak mentah Brent meningkat hingga US$118,4 per barel pada akhir Maret 2026 atau naik 42,9% secara tahunan akibat eskalasi konflik geopolitik dan gangguan pasokan global.
Baca Juga: Inflasi Capai 3,48%, Tekanan Terbesar Datang dari Sektor Energi Utamanya Diskon Listrik
Baca Juga: Pakar Ekonom Dorong Penghematan BBM Lewat Efisiensi Fiskal dan Gas Domestik
Dalam skenario pesimistis, INDEF memperkirakan harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berada di level US$115 per barel dengan nilai tukar rupiah mencapai Rp17.500 per dolar AS. Pada kondisi tersebut, defisit fiskal diproyeksikan mencapai 4,06% terhadap produk domestik bruto (PDB), dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2% dan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) di kisaran 7,2%.
INDEF juga mencatat ketergantungan impor energi Indonesia dari Timur Tengah berada pada kisaran 15,9%. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia setara 5,7 bulan impor di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri