Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Inflasi Capai 3,48%, Tekanan Terbesar Datang dari Sektor Energi Utamanya Diskon Listrik

Inflasi Capai 3,48%, Tekanan Terbesar Datang dari Sektor Energi Utamanya Diskon Listrik Kredit Foto: Antara/ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/Ilustrasi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Indonesia secara tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Maret 2026 mencapai 3,48 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,95. Kenaikan harga pada sektor energi, perumahan, dan bahan pangan menjadi pendorong utama inflasi. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan, inflasi terjadi akibat kenaikan harga yang meluas di berbagai kelompok pengeluaran masyarakat.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4/2026). 

Selain secara tahunan, BPS mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,41 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) sebesar 0,94 persen. 

Secara wilayah, inflasi tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Aceh sebesar 5,31 persen, sedangkan terendah di Lampung sebesar 1,16 persen. Sementara itu, di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi tercatat di Kota Gunungsitoli sebesar 6,30 persen. 

BPS mencatat kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan 7,24 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga mencatat kenaikan sebesar 3,34 persen. 

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi antara lain tarif listrik, emas perhiasan, daging ayam ras, ikan segar, dan beras.

“Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi y-on-y antara lain daging ayam ras, ikan segar, beras, sigaret kretek mesin, telur ayam ras, minyak goreng, serta tarif listrik dan emas perhiasan,” jelas Ateng. 

Di sisi lain, beberapa komoditas seperti cabai merah, bawang putih, dan bensin tercatat memberikan andil deflasi. 

Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat sebesar 2,52 persen secara tahunan. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 6,08 persen dan komponen bergejolak sebesar 4,24 persen. 

Komponen energi juga memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi dengan kenaikan sebesar 9,08 persen secara tahunan.

“Komponen energi pada Maret 2026 memberikan andil terhadap inflasi y-on-y sebesar 0,94 persen,” kata Ateng. 

Baca Juga: Inflasi Februari Capai 0,68%, Didorong Kenaikan Harga Daging Ayam hingga Cabai Rawit

Baca Juga: BPS: Ekspor RI Naik 2,19% Jadi US$44,32 Miliar

Baca Juga: Impor RI Melonjak 14,44% ke US$42,09 Miliar, Bahan Baku Mendominasi

Adapun komponen bahan makanan mengalami inflasi sebesar 3,78 persen dengan kontribusi signifikan terhadap inflasi nasional. 

Secara historis, inflasi Maret 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 1,03 persen, serta sedikit lebih tinggi dibandingkan Maret 2024 sebesar 3,05 persen.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri

Tag Terkait:

Advertisement