Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Ancaman lonjakan harga energi global kembali mencuat seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah. Pasar kini mengantisipasi skenario ekstrem yang bisa mendorong harga minyak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari telah lebih dulu mengganggu arus distribusi minyak dunia. Namun tekanan diperkirakan akan jauh lebih besar jika jalur lain ikut terdampak.
Dilansir dari Anadolu, Iran kini mengisyaratkan kemungkinan penutupan Bab el-Mandeb sebagai bagian dari eskalasi konflik. Jika kedua selat strategis ini benar-benar tertutup, dampaknya diprediksi meluas ke seluruh sistem perdagangan global.
Analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak tajam dalam waktu singkat. Skenario terburuk bahkan menyebut harga dapat menembus angka USD 200 per barel dalam beberapa bulan ke depan.
Proyeksi tersebut muncul karena kedua jalur ini merupakan titik krusial distribusi energi dunia. Gangguan pada salah satunya saja sudah cukup memicu gejolak, apalagi jika terjadi secara bersamaan.
“Satu sinyal” dari Iran disebut cukup untuk mengganggu aliran energi global. Pernyataan itu disampaikan Ali Akbar Velayati yang menyinggung potensi gangguan terhadap jalur perdagangan internasional.
Ancaman tersebut berkaitan dengan peran kelompok Houthi di Yaman yang sebelumnya telah mengganggu lalu lintas kapal di kawasan tersebut. Jika kembali diaktifkan, dampaknya bisa jauh lebih luas dibandingkan sebelumnya.
Bab el-Mandeb sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Sekitar 12 persen perdagangan dunia melewati jalur ini menuju Terusan Suez.
Dalam kondisi normal, jalur tersebut menjadi alternatif penting bagi distribusi energi global. Namun jika ikut terganggu, kapal-kapal harus memutar jauh melalui Tanjung Harapan di Afrika.
Perubahan rute ini akan menambah jarak hingga ribuan mil laut dan memperpanjang waktu pengiriman. Dampaknya adalah peningkatan biaya logistik yang secara langsung mendorong harga energi.
Data menunjukkan bahwa selama periode jeda konflik sebelumnya, arus minyak justru meningkat melalui jalur Laut Merah. Hal ini dilakukan untuk menghindari dampak penutupan Hormuz.
Namun ancaman terbaru dari Iran dinilai dapat menutup jalur alternatif tersebut. Artinya, dunia berpotensi kehilangan seluruh opsi distribusi energi utama secara bersamaan.
Bagi Indonesia, dampak kondisi ini tidak hanya terasa pada impor minyak. Jalur tersebut juga menjadi rute utama ekspor komoditas ke Eropa.
Baca Juga: Trump Ancam Iran: Buka Selat Hormuz atau Kalian Akan Hidup di Neraka
Jika jalur terganggu, biaya pengiriman akan meningkat dan daya saing produk nasional bisa tertekan. Efek domino dari lonjakan harga energi juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dalam negeri.
Dalam situasi seperti ini, tekanan pasar tidak hanya berasal dari konflik militer. Ekspektasi terhadap potensi gangguan saja sudah cukup untuk mendorong harga naik.
Dengan kata lain, Iran tidak perlu menutup kedua selat secara nyata untuk menciptakan dampak besar. Cukup dengan ancaman yang kredibel, pasar energi global sudah bereaksi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: