Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Efek Cip AI, Laba Samsung Tembus Rp645,62 Triliun di Kuartal I-2026

        Efek Cip AI, Laba Samsung Tembus Rp645,62 Triliun di Kuartal I-2026 Kredit Foto: Samsung.com
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Samsung Electronics mencatat laba kuartal pertama 2026 naik delapan kali lipat menjadi 57,2 won atau sekitar US$37,9 miliar, atau setara Rp645,62 triliun.

        Laba ini melampaui seluruh capaian laba tahun sebelumnya, dan mencetak rekor baru berkat booming permintaan artificial intelligence (AI).

        Lonjakan ini didorong oleh meningkatnya permintaan infrastruktur AI, terutama untuk pusat data, yang berdampak pada terbatasnya pasokan cip dan kenaikan harga secara signifikan.

        Samsung pun menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dari tren ini, sebagai produsen cip memori terbesar di dunia.

        “Apa yang terjadi berkat pasar memori, dan dampaknya lebih besar dari yang diperkirakan orang,” kata Sanjeev Rana, Kepala Riset di CLSA Securities Korea, dikutip pada Selasa (7/4/2026).

        Perusahaan riset TrendForce memperkirakan harga kontrak chip DRAM (dynamic random access memory) akan meningkat lebih dari 50% pada kuartal ini akibat kekurangan pasokan.

        Kondisi ini turut mendorong harga cip hampir dua kali lipat, hanya dalam tiga bulan pertama 2026.

        “Karena pelanggan mengantisipasi kenaikan lebih lanjut, harga kontrak aktual lebih tinggi, sehingga melampaui perkiraan,” kata Kim Sunwoo, analis senior di Meritz Securities.

        Kontribusi terbesar terhadap laba Samsung berasal dari divisi cip.

        Kim memperkirakan unit ini menghasilkan laba operasi sebesar 54 triliun won, atau sekitar 95% dari total laba perusahaan.

        Sementara, divisi ponsel mencatatkan laba sebesar 4 triliun won, didukung oleh penggunaan persediaan komponen berbiaya rendah.

        Samsung masih menjadi pemain utama dalam pasokan memori global bersama SK Hynix dan Micron Technology.

        Dalam beberapa tahun terakhir, ketiganya semakin mengalihkan fokus produksi ke memori bandwidth tinggi (HBM) yang digunakan pada akselerator AI milik Nvidia, yang pada akhirnya memperketat ketersediaan memori konvensional di pasar.

        Meski muncul kekhawatiran terkait optimalisasi AI melalui teknologi seperti TurboQuant dari Google maupun Claude Mythos dari Anthropic, para analis tetap menunjukkan pandangan positif terhadap prospek Samsung.

        Analisis Citigroup Peter Lee dan Jayden Oh memperkirakan laba operasional tahunan Samsung mencapai 310 triliun won (US$206 miliar) pada 2026, dengan asumsi permintaan inferensi AI yang tetap kuat akan menopang harga.

        Memasuki awal 2026, Samsung menjadi perusahaan pertama yang secara komersial memasok HBM4 generasi terbaru ke pelanggan.

        Capaian ini diraih setelah sebelumnya menghadapi berbagai hambatan dan keterlambatan dalam proses sertifikasi, yang sempat memberi peluang bagi SK Hynix untuk mendominasi pasar HBM yang menguntungkan.

        Baca Juga: Samsung Resmi Kenalkan Galaxy A37 5G dengan Chipset Exynos 1480 dan Fitur AI

        Samsung juga memperkenalkan cip HBM4E terbarunya dalam ajang GTC Nvidia bulan lalu.

        CEO Nvidia Jensen Huang menyatakan, teknologi fabrikasi 4-nanometer milik Samsung akan digunakan dalam produksi prosesor Groq 3. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: