Sinyal Hubungan Membaik, Korea Utara Respons Positif Permintaan Maaf Seoul
Kredit Foto: Istimewa
Korea Selatan menyoroti adanya sinyal keterbukaan diplomasi dari Korea Utara. Hal ini menyusul permintaan maaf terkait insiden drone yang masuk wilayah terkait dari Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung.
Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyebut sikap negara tetanggnya tersebut sebagai kemajuan yang berarti setelah bertahun-tahun diwarnai retorika keras. Hal tersebut bisa menjadi sinyal akan adanya perkembangan signifikan dalam upaya meredakan ketegangan militer di Semenanjung Korea.
Baca Juga: Bisa Jangkau Amerika Serikat, Korea Utara Uji Mesin Terbaru untuk Rudal ICBM
Korea Selatan juga menegaskan akan tetap berpegang pada prinsip tidak melakukan tindakan bermusuhan terhadap Korea Utara. Langkah ini merupakan bagian dari upayanya untuk memulihkan hubungan yang memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
"Seoul akan mempertahankan prinsipnya untuk menahan diri dari segala tindakan permusuhan terhadap Korea Utara. Kami akan melanjutkan kebijakan hidup berdampingan secara damai di Semenanjung Korea," kata Kementerian Unifikasi Korea Selatan.
Diketahui, Pemimpin Kim Jong Un, Kim Yo Jong mengapresiasi permintaan maaf terkait serangkaian insiden pelanggaran wilayah oleh drone dari Seoul. Hal itu dinilai sebagai langkah sangat beruntung dan bijak.
Komentar ini menjadi kontras dengan sikap sebelumnya yang cenderung konfrontatif terhadap Korea Selatan. Namun, Pyongyang tetap mengingatkan agar mereka tidak mencoba menjalin kontak lebih lanjut.
Korea Utara dalam beberapa tahun terakhir menyebut negara tetangganya itu sebagai negara paling bermusuhan dan menolak konsep reunifikasi. Kedua negara sendiri secara teknis masih berada dalam status perang sejak konflik 1950–1953.
Sebelumnya, Korea Utara kembali menunjukkan kemajuan teknologi militernya dengan menguji mesin roket bahan bakar padat yang diduga dirancang untuk rudal balistik antarbenua (ICBM). Hal tersebut menjadi sorotan dari Korea Selatan.
Badan Intelijen Korea Selatan (NIS) menilai mesin baru tersebut memiliki daya dorong lebih besar dibandingkan model sebelumnya yang diuji pada 2024. Hal ini tak hanya bisa mengancam negaranya namun juga hingga Amerika Serikat.
Baca Juga: Intelijen Korea Selatan Bongkar Siapa Penerus Kim Jong Un di Korea Utara
Menurutnya, mesin sebelumnya sudah dinilai mampu menjangkau seluruh wilayah daratan dari Washington. Dengan peningkatan terbaru, rudal itu berpotensi membawa beban lebih berat, termasuk kemungkinan beberapa hulu ledak sekaligus.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: