Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Amerika Serikat Bersiap, Trump Ancam Lanjutkan Serangan ke Iran

        Amerika Serikat Bersiap, Trump Ancam Lanjutkan Serangan ke Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat menegaskan bahwa pihaknya tidak akan meninggalkan kawasan dari Timur Tengah. Hal tersebut menyusul belum adanya kesepakatan damai yang permanen dengan Iran.

        Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menegaskan bahwa kekuatan militernya akan tetap berada di sekitar negara terkait selama implementasi kesepakatan berlangsung. Ia menyatakan kapal perang, pesawat, serta personel militer akan tetap siaga hingga seluruh isi perjanjian dipatuhi sepenuhnya oleh Teheran.

        Baca Juga: Bahayakan Kebebasan Navigasi, Rencana Iran Kenakan Tarif di Selat Hormuz Bisa Ditiru Negara Lain

        “Semua kapal, pesawat, dan personel militer, beserta amunisi dan persenjataan tambahan akan tetap berada dalam wilayah sekitar dari Iran. Kami ingin kesepakatan yang sebenarnya dipatuhi sepenuhnya oleh Teheran,” kata Trump.

        Trump juga mengeluarkan peringatan keras bahwa pihaknya siap kembali melancarkan serangan jika negara itu tidak memenuhi komitmennya. Menurutnya, jika kesepakatan dilanggar, respons militer akan dilakukan dengan kekuatan yang lebih besar.

        “Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka serangan akan dimulai dengan lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya,” ungkap Trump.

        Trump juga buka suara terkait dengan isu nuklir dari Iran. Menurutnya mereka telah setuju untuk menghentikan pengayaan uranium. Namun hal itu sendiri telah dibantah oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf.

        Trump juga kembali menekankan bahwa kesepakatan mencakup jaminan bahwa Selat Hormuz. Ia menyatakan bahwa jalur itu akan tetap terbuka dan aman bagi pelayaran internasional. Jalur ini menjadi salah satu poin krusial dalam negosiasi karena perannya yang vital bagi pasokan energi global.

        Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang masih tinggi, meski telah ada kesepakatan gencatan senjata sementara antara kedua negara. Sebelumnya, Iran menyatakan keraguan untuk melanjutkan negosiasi damai setelah serangan besar Israel di Lebanon.

        Diketahui, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon di Rabu (8/4). Hal tersebut mengancam keberlangsungan gencaran senjata selama dua minggu dari Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.

        Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan gencatan senjata tidak mencakup konflik di Lebanon. Hal ini berarti operasi militer mereka tetap akan berlanjut terhadap kelompok dari Hezbollah. 

        Tel Aviv menyatakan bahwa pihaknya telah menyerang lebih dari seratus target, termasuk pusat komando dan fasilitas militer Hezbollah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon Selatan.

        Menurut laporan, sedikitnya lima ledakan besar juga mengguncang wilayah dari dari Beirut. Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini menjadi serangan yang paling mematikan sejak konflik dimulai pada awal Maret.

        Serangan Israel ini mengancam keberlangsungan gencaran senjata dari Iran dan Amerika Serikat. Teheran diketahui ingin gencatan senjata juga turut berlaku untuk Lebanon. Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif juga menyebut kesepakatan mencakup penghentian konflik dalam wilayah tersebut.

        “Dengan senang hati saya mengumumkan bahwa kedua negara, bersama sekutu-sekutunya, telah sepakat untuk gencatan senjata segera di mana pun dalam kawasan, termasuk di Lebanon,” katanya.

        Baca Juga: Respons Serangan Israel, Iran Enggan Lanjutkan Gencatan Senjata dengan Amerika Serikat

        Meski ada kemajuan dalam bentuk gencatan senjata, perbedaan mendasar antara kedua negara menunjukkan bahwa kesepakatan jangka panjang masih jauh dari pasti. Ancaman Trump ini semakin menegaskan bahwa situasi di kawasan masih sangat dinamis dan berpotensi kembali memanas sewaktu-waktu.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: