Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Efek domino dari kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran mulai membawa angin segar bagi perekonomian di kawasan Asia Tenggara. Di Kamboja, harga eceran bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan terus mengalami tren penurunan.
Berdasarkan pengumuman resmi dari Kementerian Perdagangan Kamboja pada Selasa (14/4) malam waktu setempat, penyesuaian harga terbaru ini mulai berlaku pada Rabu (15/4) hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Dalam rinciannya, harga bensin reguler kini dibanderol sebesar 5.100 riel per liter. Angka ini turun 1,9 persen dibandingkan harga pada lima hari sebelumnya yang sempat bertengger di posisi 5.200 riel.
Penurunan yang lebih tajam terjadi pada harga solar, yang anjlok 7,24 persen menjadi 6.400 riel per liter. Sementara itu, untuk harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) atau elpiji dipastikan tetap stabil di angka 3.900 riel per liter.
Sebelumnya, lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan di Timur Tengah sempat memberikan tekanan berat pada harga bahan bakar domestik. Untuk meminimalkan guncangan tersebut, Pemerintah Kamboja harus turun tangan memberikan bantalan ekonomi bagi warganya.
Pada Sabtu (11/4) lalu, Perdana Menteri Kamboja Hun Manet mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan intervensi masif melalui Departemen Umum Bea Cukai (General Department of Customs and Excise).
Pemerintah Kamboja harus menggelontorkan subsidi hingga sekitar 50 juta dolar AS per bulannya. Subsidi tersebut disalurkan melalui skema pemotongan pajak dan bea masuk impor, yang dirancang khusus untuk melindungi daya beli masyarakat dari imbas krisis energi global sebelum akhirnya situasi geopolitik mulai mereda.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: