Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Emas Turun Saat Geopolitik Memanas, Bos JFX Ungkap Penyebabnya

        Harga Emas Turun Saat Geopolitik Memanas, Bos JFX Ungkap Penyebabnya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga emas global mengalami penurunan di tengah meningkatnya eskalasi konflik Iran-Amerika Serikat (AS), dipicu aksi jual oleh sejumlah negara yang membutuhkan likuiditas besar.

        Berdasarkan data pasar spot Bloomberg, harga emas saat ini berada di kisaran US$4.800 per troy ons pada April 2026. Sepanjang tahun berjalan (YTD), harga emas sempat menyentuh level di atas US$5.000 per troy ons pada awal 2026 sebelum mengalami koreksi dalam beberapa pekan terakhir.

        Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya menyebut penurunan tersebut terjadi karena kebutuhan cashflow jangka pendek, bukan perubahan fundamental pasar. 

        Yazid menjelaskan, di tengah kondisi perang dan ketidakpastian global, beberapa negara memilih melepas cadangan emas untuk memenuhi kebutuhan dana.

        “Terjadi penurunan emas di saat perang makin meningkat, itu karena ada kebutuhan negara-negara ini memiliki cashflowdalam jumlah besar, sehingga emasnya dijual, emasnya pun harganya turun,” ujar Yazid, Jakarta, Rabu (15/4/2026).

        Ia menegaskan bahwa penurunan harga emas bersifat sementara dan tidak mencerminkan perubahan tren jangka panjang.

        “Tapi kalau saya lihat itu secara fundamental, turunnya sesaat karena ada kebutuhan itu,” katanya. 

        Menurutnya, volatilitas harga emas saat ini lebih dipengaruhi faktor likuiditas dan respons jangka pendek pelaku pasar terhadap gejolak global. Dalam kondisi krisis, emas tetap menjadi instrumen lindung nilai, namun pergerakan harga dapat berfluktuasi tajam dalam jangka pendek.

        Yazid juga menyoroti risiko bagi pelaku pasar, khususnya di perdagangan berjangka, di tengah volatilitas yang tinggi. Ia menyebut kondisi saat ini berbeda dibandingkan sebelumnya, sehingga memerlukan manajemen risiko yang lebih ketat.

        “Dengan gejolak yang luar biasa saat ini, emas naik turun. Kalau memang menginvestasi emas itu dalam jangka panjang sudah pasti menang,” ujarnya. 

        Ia mengingatkan investor untuk tidak berorientasi jangka pendek dalam bertransaksi emas, terutama di tengah kondisi pasar yang tidak stabil.

        “Kalau memang sekarang lagi turun, bisa dilakukan secara bertahap. Jangan bertransaksi emas untuk short term,” katanya. 

        Baca Juga: Harga Patokan Ekspor Emas dan Tembaga Turun, Ini Penyebabnya

        Baca Juga: Antam Borong 100% Emas Freeport di 2026

        Baca Juga: JFX Kuasai 95% Ekspor Timah RI, Nilai Transaksi Tembus US$1,7 Miliar

        Selain faktor eksternal, Yazid menilai kerugian investor di pasar berjangka juga sering disebabkan oleh lemahnya manajemen keuangan dan pengambilan risiko yang berlebihan. Ia menekankan pentingnya pengelolaan dana investasi secara disiplin.

        “Banyak orang kalah bukan karena market, tapi karena tidak punya money management,” ujarnya. 

        Dalam kondisi krisis, emas tetap berfungsi sebagai instrumen lindung nilai, meski pergerakan harganya dapat berfluktuasi tajam dalam jangka pendek.

        Yazid juga menyoroti meningkatnya kebutuhan terhadap mekanisme lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

        “Dalam kondisi pasar yang semakin tidak pasti, kebutuhan terhadap mekanisme lindung nilai menjadi semakin relevan. Perdagangan berjangka hadir sebagai instrumen yang transparan, terstandarisasi, dan mendukung pembentukan harga yang kredibel di pasar,” ujarnya.

        Ia menjelaskan, memanasnya situasi geopolitik turut mendorong penguatan peran perdagangan berjangka sebagai bagian dari infrastruktur pasar yang mendukung pembentukan harga yang efisien dan memberikan kepastian bagi pelaku usaha serta investor.

        Dalam konteks tersebut, JFX terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang lebih transparan dan terawasi. Dari sisi kinerja, JFX menguasai lebih dari 95% pangsa pasar ekspor timah Indonesia dengan nilai transaksi sekitar US$1,7 miliar pada 2025.

        Pada perdagangan derivatif, kontrak olein (OLE01) menyumbang 38,7% dari total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX atau setara 615.028 lot. Sementara itu, kontrak Loco Gold mendominasi transaksi OTC dengan porsi mencapai 85,2%.

        Selain itu, JFX juga mengembangkan produk berbasis efek global melalui skema PALN yang mencakup saham dan ETF Amerika Serikat, serta perdagangan emas digital berbasis underlying fisik. Perusahaan juga tengah menyiapkan kontrak mikro dan nano untuk komoditas seperti emas, perak, tembaga, dan energi guna memperluas akses pasar.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: