Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Usai Trump, Giliran Wapres Amerika Serikat Tegur Paus Leo: Hati-hati Saat Bicara

        Usai Trump, Giliran Wapres Amerika Serikat Tegur Paus Leo: Hati-hati Saat Bicara Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Amerika Serikat belum selesai dalam perseteruannya dengan Vatikan. Washington tidak terima dikritik terkait dengan operasi militernya oleh Pemimpin Gereja Katolik, Pope Leo XIV.

        Wakil Presiden Amerika Serikat, James David Vance menegur tokoh religius tersebut agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan teologis terkait dengan perang dan kedamaian dunia.

        Baca Juga: Selesai Kritik Paus Leo, Amerika Serikat Kembali Dibuat Heboh Unggahan Trump

        Vance rupanya tidak terima dengan pernyataan yang menyebut bahwa tuhan tidak pernah berada di pihak mereka yang menggunakan pedang atau menjatuhkan bom. Ia menilai pernyataan tersebut terlalu menyederhanakan realitas sejarah.

        Washington dalam balasannya menyinggung perannya dalam Perang Dunia II. Ia mengungkit bagaimana pihaknya dulu berperang untuk melakukan pembebasan terhadap Prancis dan Eropa.

        “Apakah Tuhan berada di pihak kita saat membebaskan korban hingga membantu mereka yang selamat dari Holocaust? Saya yakin jawabannya ya,” ujar Vance.

        Vance menegaskan bahwa ia lebih senang saat paus mengungkapkan pandangannya dalam isu moral seperti aborsi, imigrasi dan perdamaian. Namun, ia mengakui tidak selalu sepakat dengan pandangan tokoh religius tersebut terkait konflik dan perang.

        Menurut Vance, tokoh agama perlu berhati-hati ketika membahas teologi, terutama dalam konteks geopolitik seperti perang, apalagi jika dikaitkan dengan apa yang sedang terjadi, seperti perang dari Iran dan Amerika Serikat.

        “Tentu saja, kita bisa saja berbeda pendapat tentang apakah konflik ini atau itu adil, tetapi saya pikir, seperti halnya penting bagi wakil presiden untuk berhati-hati ketika berbicara tentang masalah kebijakan publik, saya pikir sangat penting bagi paus untuk berhati-hati ketika berbicara tentang masalah teologi,” kata Vance.

        Vance juga meminta sang paus untuk berbicara berdasarkan fakta, bukan pandangan pribadinya terkait dengan perang dari Washington dan Teheran.

        “Paus harus memastikan pendapatnya berlandaskan kebenaran, dan itulah salah satu hal yang saya coba lakukan, dan itu tentu saja sesuatu yang saya harapkan dari para pendeta, baik Katolik atau Protestan,” katanya.

        Pernyataan ini menambah panjang daftar ketegangan antara Amerika Serikat dan Vatikan. Sebelumnya Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga melontarkan kritik terhadap Paus Leo.

        Ia menegaskan bahwa tokoh religius tersebut harusnya melihat ancaman dari jika senjata nuklir dimiliki oleh mereka. Ia juga menyebut bahwa puluhan ribu warga sipil tewas akibat represi terhadap demonstrasi yang dilakukan oleh Teheran.

        "Bisakah seseorang memberi tahu paus bahwa mereka telah membunuh setidaknya 42.000 demonstran tak bersenjata dan tidak bersalah dalam dua bulan terakhir, dan bahwa memiliki bom nuklir sama sekali tidak dapat diterima," kata Trump.

        Trump juga menyebut sang paus sebagai sosok yang lemah dan tidak memiliki kemampun untuk berpolitik dalam ranah internasional. Ia juga menyatakan secara terbuka bahwa dirinya bukan penggemar Paus Leo XIV.

        Namun Paus Leo, alih-alih marah, malahmemberikan balasan yang menohok. Pope Leo menegaskan bahwa dirinya akan terus menyuarakan penolakan terhadap perang, meski mendapat serangan langsung dari Trump. Ia menekankan bahwa misinya adalah mendorong perdamaian dan dialog global, bukan terlibat dalam perdebatan politik.

        Terbaru, ia memperingatkan bahwa demokrasi berisiko tergelincir menjadi “tirani mayoritas” jika tidak berakar pada nilai moral. Menurutnya, demokrasi hanya dapat tetap sehat jika didukung oleh fondasi moral yang kuat. Tanpa hal itu, demokrasi menurutnya hanya menjadi kendaraan bagi oligarki.

        Baca Juga: Diskusi Sedang Berlangsung, Ini Kata Gedung Putih Soal Negosiasi Iran-Amerika Serikat

        "Tanpa landasan ini, (demokrasi) berisiko menjadi tirani mayoritas atau topeng bagi dominasi elit ekonomi dan teknologi," kata Leo.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: