Amerika Serikat Tolak Usulan Rusia, Perang Iran Masih Akan Membara
Kredit Foto: Istimewa
Rusia menyatakan bahwa pihaknya tidak bisa melaksanakan usulan di mana mereka mengambil seluruh uranium yang diperkaya oleh Iran. Hal ini menyusul penolakan dari Amerika Serikat.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan bahwa pihaknya siap menampung uranium dari negara tetangganya itu dalam wilayahnya. Usulan ini disebut sebagai salah satu opsi untuk membantu meredakan konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Trump Klaim China Janji Tak Kirim Senjata ke Iran
Sayangnya, hal itu ditolak oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Meski demikian, tak dijelaskan secara rinci alasan mengenai penolakan usulan dari Rusia.
"Rusia siap menerima uranium yang diperkaya dari Iran. Ini akan menjadi keputusan yang baik. Tetapi sayangnya pihak Amerika menolak proposal ini," kata Peskov.
Rusia pertama kali mengajukan ide ini pada pertengahan 2025. Namun tak mendapatkan tindak lanjut. Proposal tersebut kembali diajukan pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam skema tersebut, negara itu akan mengambil stok uranium dari Iran. Stok tersebut nantinya akan diolah menjadi bahan bakar reaktor sipil dan mengurangi risiko penggunaan untuk senjata. Langkah ini dinilai dapat membantu mempercepat negosiasi nuklir dari Iran dan Amerika Serikat.
Pembicaraan Islamabad yang pertama sendiri akibat adanya penolakan isu terkait nuklir dari Iran. Menurut Washington, Teheran menolak sejumlah tuntutan utama antara lain menghentikan seluruh pengayaan uranium, membongkar fasilitas nuklir utama dan menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya.
Amerika Serikat diketahui juga meminta mereka untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok seperti Hamas, Hezbollah dan Houthi. Ia juga menuntut adanya pembukaan penuh akses dari Selat Hormuz.
Iran di sisi lain melaporkan tuntutan yang berlebihan dari Amerika Serikat. Hal tersebut menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan. Neberapa isu sebenarnya telah mencapai titik temu, namun dua hal utama masih menjadi ganjalan yakni program nuklir hingga kontrol dan akses dari Selat Hormuz.
Teheran mengatakan bahwa pihaknya meragukan komitmen damai dari Amerika Serikat. Pihaknya telah menawarkan berbagai inisiatif “berpandangan ke depan”, namun hal tersebut malah direspons dengan agenda berbeda yang menghambat kesepakatan dari Washington.
Terbaru, Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa pembicaraan tetap berjalan dan dinilai produktif. Menurutnya, terdapat kemungkinan besar terjadinya negosiasi lanjutan dari Iran dan Amerika Serikat.
“Diskusi ini terus berlangsung dan kami merasa baik dengan prospek tercapainya kesepakatan,” ujarnya.
Amerika Serikat juga membuka peluang untuk kembali hadir dalam negosiasi secara tatap muka. Menurut Leavitt, jika pembicaraan tatap muka kembali digelar, besar kemungkinan akan berlangsung di Pakistan.
Baca Juga: Stok Dikuras Perang Iran, Amerika Serikat Lobi Ford hingga General Motors untuk Produksi Senjata
"Saya juga melihat beberapa laporan tentang potensi diskusi tatap muka," kata Leavitt.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: