Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kapal Tanker China Pilih Putar Balik Hindari Blokade Laut AS di Selat Hormuz

        Kapal Tanker China Pilih Putar Balik Hindari Blokade Laut AS di Selat Hormuz Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Sebuan kapal tanker bermuatan penuh asal China, Rich Starry, dilaporkan terpaksa putar balik hingga dua kali dalam kurun waktu 48 jam untuk menghindari blokade laut Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.

        Meski kapal tersebut berangkat dari Uni Emirat Arab (UEA) dan bukan dari pelabuhan Iran, insiden ini menyoroti tingginya kehati-hatian armada komersial China dalam menavigasi risiko konflik kawasan.

        Para pengamat menilai peristiwa ini sebagai bukti nyata bahwa militer AS tidak memberikan "perlakuan khusus" kepada kapal-kapal dari negara mana pun selama pemberlakuan blokade.

        Berdasarkan data dari penyedia informasi maritim asal Chongqing, Mingkun Technology, Rich Starry berlayar ke arah timur melintasi Selat Hormuz menuju Teluk Oman sekitar pukul 2 pagi waktu setempat pada hari Selasa (14/4).

        Namun, kapal tersebut melakukan melakukan putar balik pada pukul 3 sore. Hingga Rabu malam (15/4), kapal sepanjang 188 meter itu terpantau melempar sauh di sebelah barat daya Pulau Larak, Iran.

        South China Morning Post menilai manuver kehati-hatian serupa juga terpantau di hari sebelumnya. Menurut situs pelacak kapal MarineTraffic, tanker minyak dan bahan kimia tersebut berangkat dari perairan Sharjah, UEA, pada hari Senin menuju ke arah selat. Namun, kapal itu langsung memutar haluan hanya beberapa menit setelah mendekati chokepoint jalur pelayaran.

        Rich Starry, yang berlayar dengan bendera negara Malawi, dilaporkan tengah mengangkut sekitar 250.000 barel metanol yang diambil dari UEA. 

        Usut punya usut, kapal ini memiliki rekam jejak yang rumit dengan Washington. Pada 2023, Rich Starry masuk dalam daftar hitam sanksi AS karena dituduh membantu Teheran menghindari sanksi sektor energi.

        Pemilik kapal, Shanghai Xuanrun Shipping, sejauh ini belum memberikan komentar terkait insiden tersebut.

        Yue Gang, purnawirawan kolonel Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dan komentator militer, menganalisis bahwa secara teknis, Rich Starry sebenarnya berada di luar cakupan utama blokade AS karena berangkat dari pelabuhan UEA.

        "Mereka tidak ingin menjadi kambing hitam, jadi memutar balik adalah pilihan yang lebih aman. Pada akhirnya, ini adalah kapal komersial, bukan kapal perang. Keputusan ini tentang meminimalkan risiko perusahaan, bukan soal manuver geopolitik," tambahnya.

        Blokade laut ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu, menyusul kebuntuan perundingan antara Washington dan Teheran di Islamabad, Pakistan. 

        Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade ini akan ditegakkan secara imparsial tanpa pandang bulu terhadap armada dari negara mana pun yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran.

        Reuters mencatat, pada 24 jam pertama blokade, tidak ada satu pun kapal dari pelabuhan Iran yang berhasil lolos, dan enam kapal niaga menuruti perintah pasukan AS untuk putar balik.

        Tiongkok sendiri telah merespons keras kebijakan ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, pada hari Selasa menyebut langkah blokade AS sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. 

        "Dengan adanya gencatan senjata sementara, peningkatan pengerahan militer AS dan blokade yang ditargetkan hanya akan memperburuk ketegangan dan mengancam keselamatan navigasi di selat tersebut," tegas Guo.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: