Kredit Foto: Unsplash/Kanchanara
Harga bitcoin kembali fluktuaktif dalam perdagangan pada pagi hari di Jumat (17/4). Ia berupaya menembus resistensi baru di tengah ketidakpastian seputar perang dari Israel, Iran dan Amerika Serikat.
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin sempat menembus US$75.000. Namun ia pada akhirnya mengalami konsolidasi. Volume beli yang menipis kemudian digantikan oleh volume jual sesaat pasca-breakout, mengindikasikan aksi profit taking. Namun, upaya breakout tersebut kini kembali terlihat dan dengan kekuatan beli yang lebih besar. Ini membuka peluang untuk rally ke level psikologis US$80.000.
Baca Juga: Tether Borong Bitcoin Lagi, Cadangan Tembus 97.000 BTC
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin menyoroti salah satu perkembangan paling signifikan dari dinamika bitcoin dalam kenaikan tersebut. Menurutnya, bitcoin dalam hal ini mampu menyerap guncangan geopolitik dengan sangat cepat.
"Kita sedang menyaksikan pergeseran paradigma. Jika dulu konflik global membuat investor berlarian ke uang tunai, kini Bitcoin semakin dianggap sebagai 'asuransi digital' yang kebal terhadap intervensi fisik negara mana pun," ujar Fahmi.
Perang Iran dan Amerika Serikat belumlah usai. Terbaru, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth menyampaikan peringatan keras kepada Iran. Ia mengatakan bahwa pihakny siap memberikan tekanan lebih lanjut jika mereka tidak menerima proposal damai yang diberikan oleh Amerika Serikat.
"Iran dapat memilih masa depan yang makmur, jembatan emas, dan kami berharap mereka melakukannya untuk rakyatnya. Tetapi jika mereka memilih dengan buruk, maka mereka akan menghadapi blokade dan bom yang dijatuhkan pada infrastruktur, listrik dan energi," kata Hegseth.
Senada, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat, Dan Caine menegaskan bahwa pasukannya siap bertindak kapan saja. Menurutnya, pihaknya hanya menunggu perintah dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
“Kami siap melanjutkan operasi tempur besar dalam waktu singkat,” katanya.
Angkatan Laut Amerika Serikat saat ini tengah melakukan operasi blokade di Selat Hormuz. Pihaknya mengejar setiap kapal yang berupaya berlajar menuju atau pun keluar pelabuhan dari Iran.
Menurut pejabat militer, setidaknya sudah ada 13 kapal telah memilih berbalik arah. Laporan juga menyebut belum ada kapal yang diperiksa atau disita sejauh ini berkat operasi blokade di Selat Hormuz.
Blokade militer di jalur perdagangan utama dunia yang secara teori dapat menekan aset berisiko selama berminggu-minggu hanya memberikan dampak koreksi singkat pada bitcoin sebelum harga kembali pulih dan justru mengalami kenaikan.
"Pasar sedang membangun fondasi support yang lebih kuat sebelum melanjutkan kenaikan menuju target $80.000. Konsolidasi di level ini, di tengah tekanan geopolitik yang masih tinggi, justru mencerminkan kekuatan struktural pasar," jelas Fahmi.
Adopsi institusional yang semakin agresif menjadi salah satu faktor utama yang menjaga harga bitcoin tidak terjun bebas di tengah konflik dan mendorong kenaikan harga baru-baru ini.
Dinamika pasar kripto global kini memiliki dampak langsung terhadap daya beli dan stabilitas aset pribadi masyarakat termasuk di Indonesia di tengah kondisi geopolitik dan makro global. Di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian inflasi, bitcoin mulai dilirik sebagai instrumen lindung nilai yang efektif terhadap depresiasi mata uang domestik.
Baca Juga: Pakistan Mulai Longgarkan Aturan Soal Bitcoin Cs
"Meskipun demikian, mengingat Bitcoin baru saja menyentuh US$75.000 dan kembali terkoreksi, strategi Dollar Cost Averaging atau mencicil secara rutin tetap menjadi pendekatan paling prudent bagi investor umum dibandingkan pembelian besar dalam satu waktu. Ketenangan, riset yang mendalam, dan tidak reaktif terhadap fluktuasi jangka pendek adalah kunci pengelolaan portofolio yang optimal," kata Fahmi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: