Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Krisis Avtur Ancam Penerbangan Global, IATA Peringatkan Risiko Pembatalan di Eropa

        Krisis Avtur Ancam Penerbangan Global, IATA Peringatkan Risiko Pembatalan di Eropa Kredit Foto: Pertamina
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Krisis pasokan bahan bakar pesawat mulai mengancam industri penerbangan global seiring memanasnya konflik di Timur Tengah. Eropa bahkan diperkirakan berpotensi mengalami pembatalan penerbangan dalam waktu dekat akibat kelangkaan avtur.

        International Air Transport Association (IATA) memperingatkan dampak serius dari gangguan pasokan energi terhadap operasional maskapai. Tekanan ini dinilai dapat mengganggu jadwal penerbangan secara luas di berbagai wilayah.

        Direktur Jenderal IATA, Willie Walsh, menyebut situasi ini sebagai peringatan serius bagi industri. Ia mengacu pada penilaian International Energy Agency (IEA) yang menunjukkan potensi kekurangan avtur.

        “Penilaian Badan Energi Internasional (IEA) mengenai potensi kekurangan bahan bakar pesawat sangat mengkhawatirkan,” kata Walsh, dikutip dari ANADOLU.

        Ia menilai kondisi tersebut mencerminkan tekanan nyata terhadap pasokan energi global.

        Menurutnya, dampak kekurangan avtur bisa mulai terasa dalam waktu dekat di Eropa.

        “Pada akhir Mei, kita bisa mulai melihat sejumlah pembatalan penerbangan di Eropa akibat kekurangan bahan bakar pesawat,” ujarnya.

        Walsh juga mengungkapkan bahwa gangguan serupa telah terjadi di sejumlah wilayah Asia. Kondisi ini menunjukkan krisis pasokan bahan bakar sudah mulai berdampak secara global.

        Situasi tersebut dipicu oleh terganggunya distribusi energi akibat konflik Iran. Penutupan Selat Hormuz menjadi faktor utama yang menekan suplai global.

        Berdasarkan data, kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 75% impor bersih avtur Eropa. Ketergantungan tinggi ini membuat kawasan tersebut rentan terhadap gangguan pasokan.

        IEA memperkirakan kekurangan avtur di Eropa dapat terjadi dalam enam minggu ke depan. Proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan negara-negara Eropa mencari sumber pasokan alternatif.

        Di tengah kondisi ini, maskapai berupaya mengamankan jalur suplai baru untuk menjaga operasional. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk sepenuhnya mengatasi risiko kekurangan.

        IATA juga meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi yang terkoordinasi, termasuk kemungkinan penerapan pembatasan penggunaan bahan bakar jika situasi memburuk.

        “Selain melakukan segala upaya untuk mengamankan jalur pasokan alternatif, penting bagi otoritas untuk memiliki rencana yang dikomunikasikan dengan baik dan terkoordinasi secara efektif,” kata Walsh.

        Ia menegaskan pentingnya kesiapan menghadapi skenario darurat.

        Baca Juga: Gejolak Selat Hormuz, Menperin Pastikan Stok Plastik Nasional Aman

        Baca Juga: Ketika Selat Hormuz Memanas, RI Siapkan Strategi Energi Berani

        Baca Juga: 4 Negara Incar Pupuk Urea Indonesia, Krisis Selat Hormuz Buka Peluang

        Kenaikan harga energi turut memperburuk tekanan terhadap industri penerbangan. Lonjakan biaya operasional mulai berdampak pada jadwal dan kapasitas penerbangan.

        Sejumlah gangguan dan pembatalan penerbangan juga telah terjadi di beberapa wilayah. Pemerintah di Asia dan Eropa pun mulai mengambil langkah untuk membatasi dampak krisis.

        Krisis avtur ini menjadi cerminan rapuhnya rantai pasok energi global di tengah konflik geopolitik. Jika tidak segera diatasi, gangguan terhadap penerbangan berpotensi meluas dalam waktu dekat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Wahyu Pratama
        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: