Satu Tentara Prancis Tewas Saat Jadi Prajurit Penjaga Perdamaian PBB Tewas, Macron Angkat Bicara
Kredit Foto: Reuters/Eduardo Munoz
Seorang tentara Prancis yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan di Lebanon, Sabtu (18/4). Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyebut serangan tersebut diduga dilakukan oleh Hezbollah.
"Semua indikasi mengarah pada Hezbollah sebagai pihak yang bertanggung jawab,” kata Macron, seraya mendesak otoritas Lebanon untuk menangkap pelaku.
Serangan terjadi di tengah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Hezbollah yang baru disepakati beberapa hari sebelumnya. Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL memang kerap berada di garis depan konflik dan menjadi sasaran serangan dari kedua pihak.
Korban tewas diidentifikasi sebagai Sersan Kepala Florian Montorio. Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, menyatakan Montorio tewas akibat luka tembak saat unitnya disergap dalam perjalanan menuju pos UNIFIL yang terisolasi akibat pertempuran.
Serangan dilakukan dari jarak dekat oleh kelompok bersenjata. Montorio sempat dievakuasi oleh rekan-rekannya di bawah tembakan, namun tidak dapat diselamatkan.
Kantor Presiden Prancis menyatakan Macron telah menghubungi Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Nawaf Salam untuk meminta jaminan keamanan bagi pasukan PBB. Pemerintah Lebanon mengecam serangan tersebut dan menyatakan akan melakukan penyelidikan.
Dalam pernyataan resminya, UNIFIL menyebut pasukannya diserang senjata ringan oleh aktor non-negara saat melakukan pembersihan sisa bahan peledak di desa Ghanduriyah. Satu personel tewas dan tiga lainnya terluka, dua di antaranya dalam kondisi serius.
Penilaian awal UNIFIL menyebut serangan diduga berasal dari Hezbollah. Lembaga tersebut juga tengah menyelidiki kemungkinan pelanggaran hukum internasional, termasuk dugaan kejahatan perang.
Sejak konflik meningkat, pasukan UNIFIL di selatan Lebanon sering terjebak dalam baku tembak antara Israel dan Hezbollah. Bulan lalu, tiga penjaga perdamaian asal Indonesia juga dilaporkan tewas dalam insiden terpisah.
Selain korban jiwa, sejumlah insiden lain juga terjadi, termasuk perusakan fasilitas UNIFIL dan penabrakan kendaraan pasukan oleh tank Israel.
Pasukan penjaga perdamaian PBB telah lama bertugas sebagai penyangga antara Lebanon dan Israel. Namun, mandat misi tersebut dijadwalkan berakhir pada akhir tahun ini.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: