Kredit Foto: Istimewa
Krisis gizi anak di Indonesia mendorong pemerintah menggelontorkan anggaran jumbo hingga Rp60 triliun untuk intervensi nasional. Langkah ini diambil di tengah fakta bahwa sekitar 60 persen anak belum memiliki akses terhadap makanan bergizi seimbang.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini telah menjangkau puluhan ribu titik layanan di seluruh Indonesia. Skala program yang masif ini menjadi salah satu upaya terbesar negara dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana mengungkapkan bahwa program tersebut telah menyebar secara nasional. Ia menyebut hingga saat ini MBG telah menjangkau sekitar 27 ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Alhamdulillah sekarang sudah menyebar di seluruh Indonesia, dan hari ini sudah menyerap anggaran Rp60 triliun dimana anggaran itu seluruhnya sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke menggerakkan roda ekonomi di berbagai daerah,” ujarnya.
Menurutnya, distribusi anggaran tersebut tidak hanya berdampak pada gizi, tetapi juga ekonomi lokal.
Masalah gizi di Indonesia tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan kondisi sosial dan pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan orang tua menjadi salah satu faktor utama terbatasnya akses anak terhadap makanan bergizi.
“Jadi anak-anak Indonesia itu, dewasa ini banyak lahir dari orang tua yang pendidikannya hanya lulusan SD, sehingga, tidak heran kalau 60 persen anak tidak punya akses terhadap makan bergizi seimbang, 60 persen anak itu jarang minum susu bahkan tidak mampu minum susu,” paparnya.
Kondisi ini memperlihatkan adanya persoalan struktural yang membutuhkan intervensi langsung dari negara.
Program MBG sendiri lahir dari perhatian pemerintah terhadap pertumbuhan penduduk yang tinggi. Presiden Prabowo Subianto menilai peningkatan jumlah penduduk harus diimbangi dengan kualitas manusia yang lebih baik.
“Program ini sebetulnya berawal dari kegelisahan Presiden, karena Indonesia masih tumbuh enam orang per menit, tiga juta per tahun dan masih akan tumbuh mencapai 324 juta tahun 2045,” kata Dadan.
Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan lagi jumlah penduduk, melainkan kualitasnya.
Dalam implementasinya, MBG difokuskan pada dua fase krusial dalam kehidupan manusia. Fase tersebut meliputi 1.000 hari pertama kehidupan dan usia sekolah yang menentukan perkembangan fisik serta kecerdasan.
Intervensi pada fase ini dinilai paling efektif untuk memutus rantai masalah gizi jangka panjang. Pemerintah berharap langkah ini mampu menekan angka stunting yang masih menjadi tantangan nasional.
“Kita harapkan dengan program ini stuntingnya bisa dicegah, karena rata-rata IQ Indonesia sekarang 78,” ujarnya.
Baca Juga: Pengawasan MBG Diperketat, Kejagung Turun Lewat Aplikasi Jaga Desa
Ia optimistis dalam 10 hingga 15 tahun ke depan kualitas generasi baru akan meningkat secara signifikan. Selain menekan stunting, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja masa depan.
Anak-anak yang saat ini menerima intervensi diharapkan tumbuh lebih sehat, cerdas, dan produktif. Dengan cakupan yang luas dan anggaran yang besar, MBG menjadi salah satu program strategis pemerintah.
Program ini sekaligus menjadi taruhan besar negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: