Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mengonfirmasi seluruh Wilayah Kerja (WK) migas di wilayah Aceh, saat ini telah habis diminati investor (sold out).
Merespons tingginya animo investasi tersebut, BPMA telah mengajukan permohonan resmi kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk melakukan kajian penambahan blok migas baru.
Kepala BPMA Nasri Djalal mengungkapkan, tren positif investasi ini mencakup blok-blok terminasi maupun blok eksplorasi lama.
Tingginya minat investor global dan domestik menjadi sinyal kuat kebangkitan kembali daya tarik geologi Aceh di pasar energi internasional.
“Seluruh blok migas di Aceh sudah ada peminatnya."
"Saya sudah bersurat ke Pak Menteri untuk meminta agar dilakukan kajian migas baru, karena seluruh wilayah kerja yang ada sudah ada peminat semua,” ungkap Nasri dalam keterangannya di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Berdasarkan data BPMA, sejumlah korporasi kakap tengah memproses komitmen investasi di beberapa blok strategis.
Konsorsium JAPEX dan JOGMEC asal Jepang telah mengajukan minat mengelola eks blok Repsol di Andaman III (area di bawah 12 mil laut).
Proyek ini telah mendapatkan lampu hijau dari Dirjen Migas untuk tahapan Joint Study Area (JSA).
Selain itu, PT Energi Hijau Biru yang berkonsorsium dengan Barakah Petroleum dari Malaysia tengah memproses eks blok Zaratech di Lhokseumawe.
Sementara, untuk Blok Mesraya, hak JSA telah diberikan kepada PT Indo Manunggal.
Sebagai bagian dari penguatan peran daerah, BPMA juga menawarkan eks blok South Block A (SBA) kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), PT PEMA, setelah wilayah tersebut dipisahkan dari Blok Mesraya.
Optimalisasi Produksi dan CCS
Di sisi operasional, BPMA menargetkan peningkatan kapasitas produksi di Blok B yang dikelola PEMA, dari saat ini 45 MMscfd, menjadi 60 MMscfd.
Proyek penambahan fasilitas produksi tersebut ditargetkan mulai beroperasi (onstream) pada Agustus 2025, dengan progres fisik saat ini mencapai 70%.
Pasokan gas ini nantinya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), dan industri di Medan melalui pipa Arun-Belawan (Arbel).
Sejalan dengan tren transisi energi, BPMA juga mendorong penerapan teknologi Carbon Capture Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) di Lapangan Arun.
Lapangan ini dinilai sebagai aset yang paling siap secara teknis, karena telah mengalami penurunan cadangan (depleted) hingga 96%.
“Lapangan Arun adalah yang paling ready untuk CCS di Indonesia."
"Kami sedang mendorong PT PEMA Global Energi (PGE) untuk segera memulai pilot project injeksi karbon pada semester II tahun ini,” tambah Nasri.
Baca Juga: Tiga Investor Lirik Blok Migas Aceh
BPMA memproyeksikan, jika teknologi CCS terbukti mampu meningkatkan tekanan reservoir dan mendongkrak produksi (Enhanced Gas Recovery), maka biaya investasi teknologi tersebut dapat masuk dalam skema pengembalian biaya operasi (cost recovery).
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat struktur fiskal proyek, sekaligus menjaga stabilitas energi nasional. (*)
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Yaspen Martinus
Tag Terkait: