Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Produksi Beras Melonjak 13,29%, Kementan Fokus Distribusi dan Penyimpanan

        Produksi Beras Melonjak 13,29%, Kementan Fokus Distribusi dan Penyimpanan Kredit Foto: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan lonjakan produksi beras nasional sebesar 13,29% pada 2025, menjadi sinyal kuat penguatan sektor pangan, sekaligus mendorong pergeseran fokus kebijakan ke distribusi dan penyimpanan.

        Langkah ini dinilai penting untuk mengelola surplus yang semakin besar, dan menjaga stabilitas harga di pasar.

        Kenaikan produksi beras mencapai 4,07 juta ton, mencerminkan tren positif di sektor pertanian.

        Namun, di balik capaian tersebut, pemerintah kini dihadapkan pada tantangan baru terkait pengelolaan kelebihan pasokan.

        Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pemerintah Sam Herodian mengatakan, peningkatan produksi juga terjadi di berbagai komoditas lain, meski produktivitas lahan masih perlu ditingkatkan.

        “Produktivitas kita masih di kisaran 4,5 ton–4,7 ton per hektare, sementara negara lain sudah bisa 10 ton per hektare."

        "Ini yang belum kita kejar,” ujarnya dalam media briefing di Auditorium Badan Komunikasi, Jakarta, Senin (20/4/2026).

        Selain beras, produksi jagung naik 6,74% menjadi sekitar 10,2 juta ton, dengan luas panen 2,71 juta hektare.

        Produksi bawang merah meningkat 4,82% menjadi 2,18 juta ton, sementara cabai melonjak 16,72% menjadi 1,72 juta ton.

        Di sektor peternakan, produksi daging ayam tercatat 4,06 juta ton atau naik 3,99%, dan telur ayam mencapai 631 ribu ton atau meningkat 2,92%.

        Dengan tren tersebut, Kementan menegaskan persoalan utama saat ini bukan lagi kekurangan pasokan, melainkan pengelolaan kelebihan produksi.

        “Sekarang ini bukan soal kekurangan bahan, melainkan bagaimana menyimpan dan mengelola kelebihan produksi,” kata Sam.

        Kondisi surplus juga terjadi pada sebagian besar komoditas pangan nasional.

        Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan I Gusti Ketut Astawa menyebut, 9 dari 11 komoditas telah melampaui kebutuhan domestik.

        “Artinya produksi kita melebihi kebutuhan."

        "Ada ketersediaan, cadangan, dan carry over stock,” ujar Ketut.

        Dari sisi ketersediaan, stok beras nasional terus menguat.

        Berdasarkan data Perum Bulog, stok beras per 18 April 2026 mencapai 4,91 juta ton.

        Secara tahunan, stok diproyeksikan dapat menyentuh sekitar 16 juta ton hingga akhir 2026, dengan kebutuhan konsumsi sekitar 2,8 juta ton per bulan.

        Hingga pertengahan tahun, kondisi stok dinilai tetap aman.

        “Sampai bulan Juni kita masih punya 15,8 juta ton."

        "Ini sangat aman,” jelas Ketut.

        Di sisi lain, indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan perbaikan.

        Nilai Tukar Petani (NTP) Maret 2026 tercatat 125,35, meningkat dari 123,72 pada Maret tahun sebelumnya.

        Baca Juga: Bulog Buka Gudang ke Publik, Stok Beras Membludak hingga Butuh Tambahan

        Sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan PDB sebesar 5,74% sepanjang 2025.

        Dengan produksi yang terus meningkat dan stok melimpah, Kementan menilai penguatan distribusi dan kapasitas penyimpanan, menjadi kunci agar surplus tidak menekan harga, sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan di pasar. (*)

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti
        Editor: Yaspen Martinus

        Bagikan Artikel: