Kredit Foto: Martyasari Rizky
Penanganan kasus dugaan suap impor di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dinilai menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola dan sistem pengawasan di lingkungan institusi negara.
Sejumlah pengamat menilai, kasus ini tidak semata-mata dapat dipandang sebagai persoalan individu, melainkan sebagai cerminan perlunya pembenahan menyeluruh dalam sistem yang ada. Pendekatan yang lebih komprehensif diyakini dapat mendorong lahirnya reformasi yang berkelanjutan.
Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus, menekankan pentingnya melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Ia menyebut, dalam kasus berskala besar, aspek sistem sering kali menjadi faktor kunci yang menentukan.
“Dalam kasus besar, nama hanyalah permukaan. Di bawahnya ada sistem yang perlu diperkuat agar praktik serupa tidak terulang,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Menurutnya, peristiwa ini membuka ruang evaluasi terhadap efektivitas pengawasan internal, terutama dalam hal deteksi dini di lini operasional. Penguatan sistem kontrol dinilai penting agar setiap potensi penyimpangan dapat diidentifikasi lebih cepat dan ditangani secara tepat.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya memastikan bahwa seluruh proses dalam organisasi berjalan transparan dan akuntabel. Hal ini termasuk mekanisme koordinasi antarunit, pengambilan keputusan, hingga sistem pelaporan yang terintegrasi.
Dalam konteks ini, perhatian juga diarahkan pada pentingnya memperkuat sistem manajemen risiko dan pemanfaatan teknologi informasi. Sejumlah temuan audit selama dua dekade terakhir menunjukkan bahwa tantangan dalam integrasi sistem dan pengawasan berbasis data masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.
Iskandar menilai, penguatan sistem promosi dan penilaian integritas juga menjadi bagian penting dari reformasi. Mekanisme tersebut diharapkan mampu memastikan bahwa setiap pejabat yang menduduki posisi strategis memiliki rekam jejak yang kredibel serta memenuhi standar integritas yang tinggi.
Selain itu, transparansi dalam proses hukum yang sedang berjalan juga menjadi faktor krusial. Keterbukaan informasi diyakini dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa seluruh fakta terungkap secara objektif dan berimbang.
Dari sisi dunia usaha, perbaikan sistem diharapkan mampu menciptakan iklim bisnis yang lebih sehat dan kompetitif. Kepastian prosedur serta efisiensi layanan menjadi faktor penting dalam mendukung kelancaran arus logistik dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan tata kelola tidak hanya bergantung pada penindakan, tetapi juga pada upaya pencegahan yang konsisten. Sinergi antara pengawasan internal, audit eksternal, serta partisipasi publik menjadi kunci dalam membangun sistem yang lebih tangguh.
Ke depan, berbagai pihak berharap momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong reformasi yang lebih mendalam di sektor kepabeanan. Dengan sistem yang semakin kuat, transparan, dan akuntabel, diharapkan kepercayaan publik terhadap institusi negara dapat terus meningkat.
Pada akhirnya, perbaikan sistem yang berkelanjutan diyakini menjadi fondasi utama dalam mencegah terulangnya kasus serupa, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di kancah global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Saepulloh
Editor: Amry Nur Hidayat