Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Dunia Turun Tipis di Tengah Kebuntuan Diplomasi AS-Iran

        Harga Minyak Dunia Turun Tipis di Tengah Kebuntuan Diplomasi AS-Iran Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tipis pada perdagangan Kamis (23/4/2026) setelah sempat melonjak pada sesi sebelumnya. Terhentinya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan arus perdagangan energi di Selat Hormuz masih mengalami stagnasi total.

        Minyak mentah berjangka Brent terkoreksi 15 sen menjadi 101,76 dolar AS per barel setelah sempat menetap di atas level 100 dolar AS. Selain itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 14 sen hingga menyentuh angka 92,82 dolar AS per barel.

        Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata setelah mendapatkan permintaan mediasi dari pihak Pakistan. Namun, perpanjangan ini dibarengi dengan kebijakan kedua negara yang tetap membatasi lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz.

        Jalur perairan tersebut merupakan rute krusial yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia setiap harinya. Terlebih lagi, ketegangan ini dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai sejak akhir Februari lalu.

        Baca Juga: Zelensky Bimbang, Perang Iran Bisa Ganggu Pasokan Senjata Amerika Serikat ke Ukraina

        Pihak Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz guna memperketat kontrol atas jalur perairan strategis tersebut pada Rabu (23/4/2026). Di samping itu, Amerika Serikat tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap seluruh aktivitas perdagangan laut milik Iran.

        Militer AS telah mencegat sedikitnya tiga kapal tanker berbendera Iran di wilayah perairan Asia dekat India, Malaysia, dan Sri Lanka. Selain itu, kapal-kapal tersebut dipaksa dialihkan posisinya oleh armada laut AS dari jalur pelayaran yang semula direncanakan.

        Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan bahwa gencatan senjata penuh hanya akan dilakukan jika blokade ekonomi dicabut sepenuhnya. Terlebih lagi, hingga saat ini Gedung Putih belum menetapkan tanggal pasti berakhirnya masa perpanjangan gencatan senjata tersebut.

        Konflik ini justru memberikan dampak positif pada kinerja ekspor minyak Amerika Serikat yang mencetak rekor baru sebesar 12,88 juta barel per hari. Selain itu, negara-negara di kawasan Asia dan Eropa mulai beralih memborong pasokan dari AS akibat gangguan distribusi di wilayah konflik.

        Baca Juga: Tak Hanya di Selat Hormuz, Amerika Serikat Kini Buru Tanker Iran di Asia

        Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan adanya kenaikan persediaan minyak mentah domestik sebesar 1,9 juta barel pada pekan ini. Di samping itu, stok bensin AS justru mengalami penurunan tajam sebesar 4,6 juta barel dibandingkan ekspektasi para analis.

        Persediaan distilat juga mencatatkan penurunan sebesar 3,4 juta barel di tengah dinamika pasar energi global yang tidak menentu. Terlebih lagi, ketidakpastian politik di Timur Tengah diprediksi akan terus menjadi faktor utama fluktuasi harga minyak dalam jangka pendek.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Christian Andy
        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: